Dimuridkan Untuk Memuridkan

news-thumb1280

Mat 28:16-20

 Amanat Agung, demikian biasanya sebutan yang diberikan bagi Matius 28:19-20. Sebutan ini muncul pada abad 19 dengan penekanan pada pesan/perintah (amanat) yang Tuhan berikan sebelum Ia naik ke surga kepada para murid. Tentu sebutan ini tidak bermaksud untuk menganaktirikan bagian firman Tuhan lainnya menjadi tidak agung dan tanpa amanat, sebab sebagai puncak dia tidak dapat dilepaskan dari fondasi yang telah diberikan sebelumnya. Oleh sebab itu, Matius 28:19-20 tidak dapat dipahami terlepas dari keseluruhan isi berita di dalam Injil Matius (kotbah di bukit, hukum kasih, dsb). Hal yang sama juga berlaku pada ketiga Injil lainnya. Ketiganya juga mengandung ‘amanat agung’ seperti di dalam Markus 16:15-18, Lukas 24:44-49, dan Yohanes 20:21-23, amanat yang tidak dapat dilepaskan dari isi berita Injil yang telah Tuhan sampaikan pada bagian sebelumnya.

Ada 3 unsur yang terkandung dalam Matius 28:16-20, yaitu:

– Pertama, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.” (Matius 28:18)

Tuhan hendak menegaskan kepada para murid bahwa mereka adalah hamba dari Tuhan yang kuasa-Nya di bumi dan di surga, tidak perlu dipertanyakan lagi. Sebab tidak ada satu pun yang telah mati dan mengalahkan kematian (bangkit), kecuali Dia.

– Kedua, “pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.” (Matius 28:19-20)

Ada 3 hal yang menarik untuk kita perhatikan pada bagian ini:

a. Tuhan memberikan tugas dan mengutus mereka yang telah dimuridkan-Nya, untuk menjadikan seluruh dunia murid-Nya. Inilah pola yang Tuhan ajarkan kepada para murid dan kita. Dimuridkan untuk memuridkan, diampuni untuk mengampuni, diberkati untuk memberkati, dikasihi untuk mengasihi. Dengan kata lain, tindakan yang Tuhan nyatakan kepada kita tidak bisa hanya berhenti untuk diri kita sendiri, tetapi harus dilanjutkan dengan menyatakannya kepada sesama.

b. Kata pergilah menggunakan bahasa Yunani poreuothentes yang lebih tepat diartikan “ke tempat mana saja kamu pergi” atau “di mana saja kamu berada”. Dari sini kita memahami bahwa Tuhan mengutus kita untuk melakukan tugas dalam konteks di mana kita sekarang hidup dan berada—di tengah kampus, kantor, keluarga, gereja, masyarakat, dan negara. Pemuridan bukan merupakan program khusus melainkan sebuah gaya hidup sebagai murid Yesus yang ditampilkan dalam keutuhan hidup (bukan hanya di gereja). Jadi bukan kita harus pergi ke sebuah tempat khusus terlebih dahulu atau ke daerah terpencil, baru disebut melakukan tugas perutusan. Sekalipun Tuhan bisa saja memanggil secara khusus sebagian orang untuk pergi ke tempat terpencil.

c. Menjadikan murid berbicara tentang kesediaan untuk mengikut Yesus, meneladani, menerima dengan sepenuh hati apa yang telah diajarkan dan dilakukan oleh Yesus serta dari hari ke hari semakin serupa dengan Kristus. Hal ini sejalan dengan empat pilar pendidikan UNESCO: learning to know, learning to be, learning to do, learning to live together. Maka, menjadi murid terkait dengan perubahan cara berpikir, merasa dan melakukan segala sesuatu seperti Kristus. Kesediaan untuk percaya dan menjadi murid Kristus adalah pekerjaan Roh Kudus. Bagian kita adalah untuk menginspirasi dan menjadi saksi-Nya. Oleh sebab itu, sebelum memuridkan kita pun harus ada dalam relasi yang terus-menerus dengan Kristus, Sang Guru yang dinyatakan dengan hidup dalam ketaatan kepada-Nya.

– Ketiga, “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:20)

Di sepanjang karya keselamatan yang dilakukan oleh Allah, Ia tidak akan pernah membiarkan hamba-hamba-Nya melakukan tugas perutusan tanpa diperlengkapi. Demikian juga ketika Tuhan mengutus para murid dan kita saat ini untuk memuridkan. Ia menyatakan diri sebagai ‘Aku’ yang memiliki segala kuasa di bumi dan di surga, yang akan memampukan, menolong, menghibur, menguatkan dan melindungi dalam mengerjakan tugas yang besar itu. Oleh sebab itu, dalam mengerjakan pekerjaan Allah, kita tidak bisa mengandalkan diri sendiri. Sebab mengandalkan diri sendiri akan membawa kita pada rasa berpuas diri dan kesombongan diri. Kerjakanlah tugas memuridkan ini dengan bersandar dan mengandalkan Tuhan.

                                                                                                            DRS

 

Leave a comment