Dilatih untuk Melatih

news-thumb1280

Lukas 10:1-11, 16-20

Pengantar
Sebuah ungkapan bijak berbunyi, ”The beautiful thing about learning is that no one can take itu away from you”. Artinya, apa yang kita pelajari tidak akan bisa direbut orang lain. Ilmu adalah sesuatu yang tertanam di dalam diri. Tidak seorang pun bisa mengambilnya dari kita. Semakin belajar, kita akan bertambah ‘kaya’. Demikian juga, dengan terus mengajarkan ilmu itu, kita akan memperkaya kehidupan orang-orang lain.

Dalam memulai pelayanan-Nya, Tuhan Yesus pertama-tama memanggil murid-murid-Nya. Awalnya jumlah mereka 12 orang saja, lalu bertambah 70 murid lagi (ay 1). Jumlah ini terus bertambah, baik selama pelayanan Tuhan Yesus maupun setelah kenaikan-Nya ke sorga. Melalui pemuridan itu, Tuhan Yesus memperkaya banyak orang; bukan semata dengan harta tetapi dengan pengenalan, pengalaman, kasih dan kuasa ilahi.

Pada saat itu, seorang murid berkomitmen untuk selalu mengikuti gurunya. Begitu pula dengan murid-murid Kristus. Mereka menemani, mengiringi, dan menyertai Sang Guru ke manapun Ia pergi. Mereka memberi diri diajar dan dibentuk. Mereka meneladani cara hidup, sikap dan karakter Sang Guru. Mereka menjadi saksi sejarah atas segala hal yang mendebarkan, mengejutkan, menakutkan, menghebohkan, menyedihkan, menyenangkan, menghiburkan dan menghidupkan dalam diri Tuhan Yesus.

Dalam pemuridan-Nya, Tuhan Yesus menggunakan pola training for trainer. Ia mengajar murid-Nya tentang hal-hal yang akan mereka ajarkan kepada orang lain. Ia memperlihatkan kepada mereka hal-hal yang harus diperlihatkan kepada orang lain. Ia menunjukkan kepada murid-Nya bagaimana caranya mengasihi dan menolong orang lain. Ia memberikan contoh-contoh nyata bagaimana menjadi murid yang baik sekaligus guru yang baik. Tuhan Yesus berharap murid-murid- Nya dapat meneladani hidup-Nya dan melakukan hal-hal yang sama seperti yang dilakukan-Nya.

Para murid tidak hanya diajar secara lisan, tetapi juga praktek kerja nyata. Mereka diutus berdua-dua ke berbagai kota dan tempat yang kelak akan dikunjungi Tuhan Yesus. Tugas mereka adalah menghadirkan damai sejahtera (ay 5), menyembuhkan orang-orang sakit (ay 9a), menyatakan “Kerajaan Allah sudah dekat padamu” (ay 9b) dan juga menyerukan penghukuman (ay 10-12) jika manusia tidak mau bertobat. Dalam melakukan tugas itu, para murid diperlengkapi otoritas dan kuasa. Otoritas: barangsiapa menerima dan mendengarkan mereka, sesungguhnya orang itu juga sudah menerima dan mendengar Tuhan Yesus (ay 16). Kuasa: para setan pun takluk kepada mereka, sebab kuasa Kristus bekerja melalui mereka (ay 17).

Di dalam proses dilatih dan melatih tersebut, para murid diminta agar mengandalkan pemeliharaan Tuhan. Mereka tidak perlu membawa uang saku, bekal atau kasut. Mereka tidak perlu kuatir kebutuhan jasmani sehari-hari. Tuhan pasti mencukupkan semuanya. Mereka juga tidak perlu memberi salam kepada orang saat perjalanan, agar terhindar dari obrolan dan pergaulan sia-sia. Mereka harus fokus pada tujuan yang Tuhan tentukan.

Saat ini, tugas kesaksian dan pemuridan menjadi tanggung jawab kita. Kitalah murid-murid Kristus di masa kini. Sebagai murid, perlengkapilah diri dengan pengenalan yang makin mendalam akan Tuhan. Bertumbuhlah dalam pengalaman-pengalaman iman. Pekalah melihat mukjizat Tuhan. Mintalah talenta dan karunia rohani. Dan, bukalah diri pada pelayanan Tuhan.

Beriringan dengan itu, ambillah peran untuk melatih dan memuridkan orang-orang lain. Kita adalah utusan pendahulu sebelum Tuhan Yesus datang kembali sebagai Raja dan Hakim yang adil. Kita ada untuk melatih dan memuridkan sebanyak mungkin orang, sehingga mereka turut menyambut karya keselamatan dalam Kristus. Ingatlah perkataan Tuhan Yesus: tuaian begitu banyak, tetapi pekerja sedikit. Begitu banyak jiwa yang perlu mendengar Injil, tetapi pemberitanya terbatas. Begitu banyak orang merindukan keselamatan, sehingga butuk lebih banyak pelatih, pengajar, pendamping dan penolong bagi mereka. Maukah Saudara melatih mereka?

Pertanyaan Diskusi

  1. Menurut ayat 3, para murid diutus “seperti anak domba ke tengah-tengah serigala”. Menurut Saudara, apakah makna ungkapan ini?
  2. Menurut teks di atas, apa sajakah kebahagiaan menjadi murid Tuhan?

Pertanyaan Sharing

  1. Ceritakanlah secara singkat bagaimana Saudara menjadi seorang Kristen! Adakah orang tertentu yang menuntun atau melatih Saudara?
  2. Jika “memuridkan” adalah tugas semua murid, bagaimana kira-kira Saudara bisa melakukan tugas itu? Sharingkanlah ide Saudara!
  3. Sebutkan 2 orang di sekitar Saudara yang butuh penguatan dan dukungan Saudara. Mengapa dan bagaimana Saudara mendukungnya?

MM

Leave a comment