DALAM BADAI TUHAN BERTINDAK

news-thumb1280

Markus 4:35-41, 2 Korintus 6:1-13

“Kisah hidup setiap orang dirajut oleh Allah dalam keindahan yang menggetarkan hati.”

Saya bersyukur dalam camp Komisi Remaja Imanuel (yang terletak di Mangga Besar), tangan Allah yang sedang merajut itu terasa lewat setiap kisah yang dibagikan. Salah satu kegiatan rutin yang dilakukan selama camp adalah sharing life di dalam kelompok. Kami berbagi kisah, mulai dari cita-cita, hubungan dengan lawan jenis, sampai kisah perjalanan keluarga dengan berbagai badai yang menghempas. Badai itu hadir dalam diri seorang anak yang harus belajar dan bekerja keras untuk bisa sekolah, anak yang harus berupaya mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri karena orangtua yang sudah berpisah dan hidup pas-pasan, anak yang harus diasuh oleh kakaknya karena orangtua yang tidak mampu mengasuhnya dengan baik, keluarga yang harus mengalami berhadapan dengan badai yang terus menghempas dalam kurun waktu yang sangat pendek. Di tengah kisah badai kehidupan, sharing kami justru diakhiri dengan kesimpulan, ‘Tuhan punya cara yang spektakuler untuk memelihara hidup kami di tengah segala badai’. Mengapa spektakuler? Karena cara-Nya menolong kami selalu di luar kemampuan nalar manusia. Kesimpulan ini yang membuat mata berkaca-kaca, hati bergetar (seperti ada kupu-kupu dalam perut) dalam ketakjuban dan sukacita penuh dengan ungkapan syukur ketika melihat rajutan Allah yang indah di tengah badai.

Penulis Injil Markus menyampaikan pesan yang sama melalui pengalaman para murid di tengah badai. Ketika Tuhan Yesus dan para murid naik perahu di danau Galilea, tiba-tiba terjadi badai besar disertai angin puting beliung. Badai itu pasti sangat besar, sebab para murid yang bekerja sebagai nelayan pun panik menghadapinya. Di tengah segala kekacauan dengan kepanikan yang luar biasa, dicatat bahwa Tuhan Yesus sedang tidur di buritan. Para murid yang sedang ketakutan itu segera membangunkan dia dan berkata, “guru, engkau tidak peduli kalau kita binasa?”.

Sungguhkah Tuhan tidak akan peduli jika para murid binasa? Mengapa mereka bertanya seperti itu? Bukankah para murid sudah berkali-kali melihat mujizat yang dilakukan oleh Tuhan Yesus? Lalu, bagaimana mungkin mereka lupa akan semua mujizat itu dan berkata, “Tuhan apakah Engkau tidak peduli jika kita binasa?”. Pernyataan itu menunjukkan para murid yang dikuasai oleh perasaannya sendiri, takut dan khawatir, yang membuat mereka lupa akan kekuasaan dan kekuatan Tuhan yang telah disaksikannya.

Bukankah percakapan para murid itu terasa dekat dan mirip dengan respon kita ketika berhadapan dengan badai kehidupan (masalah ekonomi, kesehatan, rumah tangga, pasangan hidup, pelayanan, pekerjaan, dst). Ketika berhadapan dengan badai bukankah kita akan bertanya seperti para murid. Padahal bukankah di masa lalu kita pun pernah berhadapan dengan badai? Bukankah dulu kita berhasil melaluinya? Lalu mengapa setiap kali kita berhadapan kembali dengan badai lain kita berkata, ‘Tuhan apakah engkau tidak peduli? Tuhan engkau ada dimana? Tuhan kenapa dikasih badai lagi, kemarin khan udah, kok terus-terusan?’.

Mari kita perhatikan respon Tuhan, Ia berkata, “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?”. Dari sini kita melihat ada keterkaitan antara rasa takut dan percaya. Ketika kita percaya, kita tidak akan berkata Tuhan tidak peduli. Orang yang percaya, pasti tahu bahwa Tuhan peduli. Ia tidak akan membiarkan dirinya dipengaruhi dan diatur oleh perasaan dan bukan iman. Sebab iman berarti bergantung dan berserah penuh kepada Tuhan.

 Itu sebabnya kita perlu melakukan refraiming di tengah badai. Refraiming artinya: membingkai kembali pengalaman atau kejadian dengan sikap positif. Badai dapat dilihat sebagai masa penuh penderitaan, tetapi juga bisa dilihat sebagai cara Tuhan menyatakan pemeliharaan dan mujizat-Nya yang mempesona. Maka di tengah badai ada pilihan untuk mengeluh atau mengucap syukur atas penyertaan dan kasih setia Tuhan. Refraiming ini yang dilakukan oleh Paulus dalam 2 Kor 6:8-10. Di tengah penderitaan dalam pelayanan yang dihadapinya, dalam badai kehidupan, Paulus dapat mengalami kebaikan dari penderitaannya, yaitu sebagai kesempatan untuk menyaksikan kasih dan kuasa Allah.

Saudara, setiap orang memiliki badai dalam hidupnya. Apakah saudara mau berdiam diri sejenak saat ini, menoleh ke belakang, melihat berbagai badai kehidupan yang pernah saudara alami, merasakan tangan Allah yang spektakuler di tengah badai dan memampukan saudara bisa ada sampai

saat ini? Berhentilah sejenak, biarkan dirimu terpukau kembali dengan rajutan Allah dalam hidupmu, bersyukurlah, sehingga pengalaman itu akan memperteguh kita dalam melanjutkan perjalanan iman bersama Sang Mahakasih. Badai itu pasti, respon atas badai itu pilihan. Maka pilihlah untuk merasakan berkat-Nya dan kehadiran-Nya di tengah badai. Tuhan memberkati.

DRS

Leave a comment