CINTA UNTUK RUMAHMU MENGHANGUSKAN AKU

IMG-20210306-WA0001

(Kejadian 20:1-17, Mazmur 19, 1Korintus 1:18-25, Yohanes 2:13-22)

Rumah Tuhan adalah rumah yang dikhususkan oleh Tuhan dan bagi Tuhan, untuk menyatakan kehadiran-Nya di tengah-tengah umat-Nya. Dalam anugerah-Nya, Tuhan yang Mahakudus  tidak terhampiri oleh manusia berdosa, berkenan berdiam di rumah buatan tangan manusia. Tentang rumah itu disebutkan dalam doa yang dinaikan Raja Salomo bahwa rumah itu akan menjadi Rumah Doa, rumah tempat di mana umat bisa menaikan doanya dan Tuhan akan mendengarkannya. Rumah itu akan menjadi rumah di mana orang dapat mencari keadilan dan kebenaran, rumah di mana orang-orang yang berseru untuk bertobat mendapat pengampunan dan pembaruan. Rumah yang menjadi tempat bagi umat untuk mencari belas kasihan dan kelepasan dari segala kesesakan dan penindasan. Rumah yang terbuka juga untuk orang-orang asing yang mau datang mencari dan menemukan Tuhan. Rumah di mana Tuhan dengan segala kebenaran, keadilan dan anugera-Nya dapat dijumpai oleh setiap orang yang mau berseru kepada-Nya (lihat 1Raja-raja 6 dan 8). Dan berkaitan dengan doa Salomo tentang rumah itu, firman Tuhan dalam 1Raja-raja 9:3 kepada Salomo: “Telah Kudengar doa dan permohonanmu yang kausampaikan ke hadapan-Ku; Aku telah menguduskan rumah yang kaudirikan ini untuk membuat nama-Ku tinggal di situ sampai selama-lamanya, maka mata-Ku dan hati-Ku akan ada di situ sepanjang masa…”

Tuhan berkenan menyatakan kehadiran-Nya dan mencurah berkat serta anugerah-Nya melalui rumah itu, karena itu seharusnya Rumah Tuhan menjadi sumber berkat dan anugerah yang membawa kelegaan bagi umat yang mau datang beribadah di rumah itu. Tetapi ternyata tidak lagi demikian yang terjadi di jaman Tuhan Yesus. Rumah itu telah berubah fungsi, bukan lagi sebagai tempat di mana orang-orang yang mau mencari Tuhan dapat menemukan Dia, melainkan menjadi tempat di mana mereka yang mau beribadah dan menjalankan ritual diperas dan dirampok habis-habisan dengan praktek penukaran uang dan penjualan hewan kurban. Di rumah Tuhan itu, mereka tidak bisa menggunakan mata uang yang biasa mereka gunakan sehari-hari, mereka diharuskan menukar uang mereka dengan uang yang dapat dipergunakan di lingkungan Rumah Tuhan. Kurban yang mereka bawa dari tempat tinggal mereka masing-masing kebanyakan tidak lolos pemeriksaan untuk dipersembahkan kepada Tuhan, sehingga banyak di antara mereka yang harus menjual hewan kurban mereka dengan harga murah, lalu mereka harus membeli hewan lain untuk mereka kurbankan dan sudah dapat dipastikan tentunya dengan harga yang lebih mahal.

Ketika Tuhan Yesus mendapati rumah Tuhan dijadikan sarang penyamun, maka murka-Nya bangkita atas mereka. Itu sebabnya Ia mengusir para pedagang dan membalikkan meja-meja penukaran uang. Rumah Tuhan yang seharusnya menjadi rumah Doa, telah dijadikan tempat bagi sebagian orang untuk mencari keuntungan dengan memanfaatkan kerinduan dan ketulusan orang yang mau datang beribadah mencari Tuhan. Tuhan Yesus marah karena banyak orang dalam lingkungan rumah Tuhan, bukannya memfasilitasi umat untuk mengalami perjumpaan dengan Tuhan dan anugerah-Nya, sesuai dengan fungsi keberadaan mereka sebagai pelayan Tuhan, mereka malah menghalang-halangi umat yang mau mencari Tuhan dengan berbagai macam aturan yang hanya memperkaya dan menguntungkan diri mereka. Bahkan mereka juga membuat orang-orang asing kehilangan kesempatan untuk datang menghadap Tuhan di rumah Tuhan, karena tempat yang mereka gunakan untuk membuka lapak mereka adalah area yang seharusnya dapat digunakan oleh orang-orang asing yang mau mencari Tuhan. Ketika ada orang-orang yang berusaha menghalangi orang lain untuk datang kepada Tuhan, maka Tuhan Yesus tidak segan untuk menegur mereka dengan tegas dan keras. Alasannya melakukan hal itu jelas, yaitu karena Ia mencintai Tuhan dan umat-Nya. Ia ingin agar Tuhan dan anugerah-Nya dapat dijumpai oleh setiap orang yang datang mencari Tuhan dalam ibadah yang mereka lakukan.

 

LN

Leave a comment