BUKAN PERTOBATAN BIASA

news-thumb1280

Filipi 4:4-7 & Luk 3:7-18

Minggu Adven III dalam kalender gerejawi disebut Gaudatte Sunday. Gaudatte berasal dari bahasa Latin yang berarti sukacita. Sukacita inilah yang disimbolkan dengan lilin warna merah muda yang muncul di antara lilin ungu. Warna merah muda ini mengingatkan kita untuk bersukacita karena kelahiran Juru selamat semakin dekat di tengah masa penantian dan pertobatan. Inilah dua sisi yang hadir dalam minggu Adven III. Pada satu sisi, masa penantian dalam kegentaran akibat dosa yang seringkali masih menguasai hidup. Di sisi lain, kita juga diingatkan untuk menghidupi masa penantian ini dalam sukacita karena Kristus akan segera datang kembali.

Tokoh minggu ini tetap berfokus pada Yohanes Pembaptis. Ketika Yohanes Pembaptis hadir, orang Yahudi hidup tanpa tuntunan nabi. Maka, peran untuk menafsir, mengawasi sistem dan aturan keagamaan, peribadahan, Bait Allah, semuanya dilakukan oleh orang Farisi dan para imam. Sangat disayangkan para pemimpin agama ini justru hidup jauh dari kebenaran dan memanipulasi seluruh aktivitas keagamaan demi kekuasaan dan keuntungan duniawi. Terjadi penindasan, pemerasan, eksploitasi terhadap Bait Allah (ingat tentang Yesus menyucikan Bait Allah) dan perebutan kekuasaan di antara mereka. Hal ini yang membuat kehidupan beragama pada akhirnya menjadi sekedar formalitas dan penuh kemunafikan. Di tengah situasi inilah Yohanes hadir dan menyerukan berita keselamatan dari Allah. Israel yang hidup dalam masa kelam tidak mengurungkan niat Allah untuk tetap menghadirkan kesejahteraan bagi umat-Nya. Berita yang Yohanes bawa ini bagaikan oase di tengah padang gersang. Itu sebabnya keberadaan Yohanes dengan cepat menarik perhatian banyak orang yang berbondong-bondong datang untuk menjumpainya.

Yohanes Pembaptis berkata kepada mereka, “Hai kamu keturunan ular Beludak!” (ular beludak artinya berbahaya dan licik). Siapakah yang mengatakan kepada kamu supaya melarikan diri dari murka yang akan datang? Jadi hasilkanlah buah-buah yang sesuai dengan pertobatan. Dan janganlah berpikir dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini!” Hal ini sejalan dengan Matius 7:21, “Bukan setiap orang yang berseru kepada- Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” Yohanes mengingatkan bahwa tidak cukup hanya menjadi anak Abraham atau berseru Tuhan, tetapi mereka harus menghasilkan buah pertobatan yaitu melakukan kehendak Bapa. Berita pertobatan ini juga yang diperdengarkan dan diperingatkan pada kita saat ini. Bertobat – metanoia, memiliki arti perubahan akal budi, dari hidup yang berpusat pada diri sendiri kembali berpusat kepada Allah. Perubahan di dalam inilah yang nantinya akan melahirkan perubahan di luar dirinya. Berdasarkan jawaban Yohanes Pembaptis di ayat 10-14, ada 2 hal yang dapat menyatakan buah pertobatan, yaitu:

1. Memperhatikan dan peduli terhadap sesama
Yohanes memberikan contoh buah pertobatan kepada orang banyak yaitu dengan membagi baju dan makanan yang dimilikinya kepada sesama yang kekurangan. Contoh ini merupakan ajakan bagi kita untuk menghasilkan buah pertobatan dengan melepaskan diri dari egosentrisme dan peduli terhadap sesama. Dengan kata lain, buah pertobatan harus dapat dirasakan, dinikmati dan berdampak bagi hidup orang lain.

2. Buah pertobatan dinyatakan melalui peran dan fungsi yang dilakukan dengan benar
Yohanes tidak meminta para pemungut cukai dan prajurit untuk meninggalkan pekerjaan mereka lalu memisahkan diri dari dunia dalam menghasilkan buah pertobatan. Yohanes justru mengundang mereka untuk mempersiapkan kedatangan Tuhan dimanapun dan apapun yang sedang mereka lakukan. Dengan demikian, buah pertobatan dinyatakan melalui setiap peran dan fungsi yang dijalani saat ini. Layaknya pemungut cukai yang diingatkan untuk tidak mengambil lebih dari yang seharusnya. Seperti prajurit yang dihimbau untuk menjalankan fungsinya memberi rasa aman pada rakyat dan bukan sebaliknya. Demikian juga kita diajak untuk menyatakan buah pertobatan di dalam seluruh peran dan fungsi kita masing-masing yang dilakukan dengan baik dan bertanggungjawab. Semua buah pertobatan itu dilakukan dalam sukacita karena kita sedang menyongsong kedatangan Tuhan kembali. Mari kita pakai momen minggu Adven ini untuk memeriksa diri dan membuat komitmen buah pertobatan seperti apa yang akan kita hasilkan sejak saat ini. Ingatlah apa yang dikatakan Yohanes di ayat 9, “Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, akan ditebang dan dibuang ke dalam api.”

DRS

Leave a comment