Bukan Aku Melainkan Dia

IMG-20201214-WA0009

Yohanes 1:6-8, 19-28

Salah satu istilah yang sedang ‘naik daun’ belakangan ini adalah pansos (panjat sosial). Apa itu pansos? Pansos adalah sebuah usaha untuk menaikkan kelas sosialnya, dan mendapat perhatian serta popularitas. Sebenarnya pansos merupakan sebuah proses alamiah yang akan terjadi dalam waktu yang cukup panjang. Misalnya, melalui karirnya, berbagai pencapaian yang ia miliki, dsb.  Tetapi, tidak semua orang mau melalui proses itu, sehingga memilih jalan yang membuatnya dapat mencapai status sosial yang lebih tinggi secara instan dengan berbagai macam cara, termasuk cara-cara yang tidak sepantasnya dilakukan. Misalnya: rela ‘ngutang’ sana sini supaya dikenal sebagai seorang sosialita atau berteman dengan orang yang statusnya lebih tinggi supaya ikut dikenal. Ia berusaha merebut semua perhatian bagi dirinya sendiri.

Lain halnya dengan Yohanes Pembaptis. Ia hadir ketika orang Yahudi hidup tanpa tuntunan nabi. Maka orang Farisi dan para imam lah yang memiliki otoritas untuk mengawasi sistem dan aturan keagamaan pada masa itu. Sangat disayangkan, mereka justru menggunakan otoritas yang dimilikinya untuk kekuasaan dan keuntungan pribadi semata. Ingat peristiwa Yesus marah di Bait Allah! Para pemuka agama menindas orang miskin, sehingga membuat mereka tidak bisa melaksanakan ibadah penahiran karena harga hewan yang tinggi (10x lipat). Di tengah situasi itulah Yohanes Pembaptis tampil sebagai sosok yang hidup dalam kebenaran dan kesederhanaan. Dengan cepat ia menarik perhatian banyak orang. Kepopuleran Yohanes membuat banyak penduduk dari Yerusalem, seluruh Yudea dan daerah sekitar Yordan datang ke padang gurun untuk mengaku dosa dan meminta dibaptis olehnya. Padahal aturan keagamaan pada waktu itu menyatakan bahwa mereka harus mengaku dosa dengan cara datang kepada imam di Bait Allah. Hal ini membuat orang Farisi, orang lewi dan para imam tertarik untuk mencari tahu siapakah Yohanes Pembaptis yang sedang ‘naik daun’ itu.

Posisi Yohanes menjadi posisi yang paling diinginkan dan diminati banyak orang, ia sangat terkenal. Ia disangka sebagai Mesias, Elia, atau seorang nabi yang akan datang. Sebenarnya, Yohanes Pembaptis dapat dengan mudah membenarkan semua pertanyaan mereka. Tokh saat itu dia punya banyak pengikut dan sedang naik daun. Tokh tidak ada yang tahu seperti apa wajah dari Mesias, Elia atau nabi yang akan datang itu. Ia dapat dengan mudah memperoleh kepopuleran, berbagai keuntungan, pujian bagi dirinya sendiri. Tetapi Yohanes sadar betul identitas dan tugasnya. Dengan tegas ia mengatakan, “Aku bukan Mesias, Bukan Elia dan bukan nabi”. Ia juga dengan jelas menegaskan bahwa Ia yang akan datang jauh lebih tinggi sehingga membuka tali kasut-Nya pun (pekerjaan seorang hamba), ia tidak layak. Ia memperoleh banyak perhatian, tetapi ia tahu bahwa semua perhatian yang diperolehnya ditujukan untuk membuat orang menyiapkan diri bagi Dia, Sang Mesias yang akan datang. Ia tidak mencari popularitas bagi dirinya sendiri, tetapi untuk memuliakan Tuhan. Ia tahu bahwa dirinya adalah utusan yang mewartakan kedatangan Sang Mesias dan bukan Mesias itu sendiri. Ia tahu bahwa yang utama adalah Tuhan dan bukan dirinya sendiri.

Minggu ini adalah minggu Adven III atau yang disebut Minggu Gaudete (sukacita). Pada minggu ini lilin merah muda yang akan dinyalakan. Mengapa lilin merah muda yang dipakai? Sebab merah muda melambangkan sukacita dan harapan di tengan masa penantian ini. Gereja sudah setengah jalan menjalani masa Adven dan karena itu membawa sukacita dan pengharapan yang lebih besar akan kedatangan Kristus. Pada minggu Adven III ini kita belajar dari tokoh Yohanes Pembaptis yang tahu diri dan tahu pekerjaannya di tengah dunia. Demikian juga kita mau belajar untuk menyadari siapa diri kita dihadapan Allah serta tugas apa yang kita miliki untuk dikerjakan saat ini.

Seperti Yohanes Pembaptis yang menempatkan kepentingan dan keinginannya di bawah kemuliaan Tuhan, ini juga hal yang hendak kita lakukan. Natal kali ini akan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kita tidak merayakannya di gedung gereja bersama dengan ratusan orang disekitar kita. Kita tidak dapat memeluk atau berjalan tangan dengan sahabat kita di gereja. Kita tidak merayakan natal dengan kemewahan dan gegap gempita seperti biasanya. Semua ini dapat membuat kita kehilangan semangat dalam menyambut natal karena fokusnya ada pada diri kita. Ketika kita sibuk, terlena untuk mengasihani diri dan pada akhirnya melupakan panggilan kita yang sebenarnya. Maka cobalah tempatkan perhatian kita pada tempat yang tepat. Bukan kita, melainkan Dialah yang seharusnya menjadi pusat perhatian kita. Ketika fokusnya diubah, maka pertanyaannya bukan apa yang tidak aku dapatkan di natal kali ini, melainkan apa yang dapat aku kerjakan di natal tahun ini. Apa yang dapat dilakukan untuk menghadirkan berita sukacita Sang Imanuel di tengah beratnya kehidupan saat ini. Apa yang dapat aku lakukan untuk membuat orang di sekelilingku merasakan sungguh Allah itu dekat, Ia mengasihi dan Ia sudah lahir bagi dunia. Misi dan berita tentang Dialah yang utama untuk kita beritakan.

                                                                                                            DRS

Leave a comment