BILA DITOLAK dan DILUKAI

news-thumb1280

Kej 3:8-15, Mzm 130, 2 Kor 4:13-5:1, Mrk 3:20-35

Mari kita simak 2 contoh percakapan berikut ini: “Aduh tuh orang kalo datang pasti ada aja yang dikritik, dikomplain, bahkan hal sepele juga diomongin. Udah gitu kalo ada yang ndak sesuai dengan kemauannya, dia pasti marahin orang itu sengaja di depan banyak orang. Orang kayak gini biasanya punya luka yang belum selesai, makanya jadi reseh.”. Percakapan kedua, “Dia itu punya banyak potensi. Dia bagus banget kalo mimpin acara dan dia pinter. Sayangnya dia minder dan ndak percaya diri. Kalo diminta memimpin, dia pasti akan menghindar. Dia pernah punya pengalaman apa kali ya sampai jadi begitu?”.

Apakah saudara pernah mendengar atau terlibat dalam percakapan seperti ini? Pada umumnya ketika berjumpa dengan orang seperti itu, kita akan melihatnya sebagai dampak dari luka yang pernah dialami. Orang yang pernah terluka memiliki kemungkinan menjadi orang yang minder, arogan, sombong, jutek dan sebagainya. Luka itu terjadi akibat ada 3 aspek kebutuhan dasar manusia (3P) yang tidak terpenuhi. 3P itu adalah pengakuan, penghargaan dan penerimaan yang tidak diperoleh dalam relasinya dengan orang lain.

Pertanyaannya, siapa yang dapat melukai kita? Sebutir telor dalam keranjang tidak akan pecah jika dia berjauhan dengan telor lainnya. Dia hanya akan pecah dan terluka ketika ia ada berdekatan dengan telor-telor lainnya. Maka mereka yang bisa melukai kita adalah orang-orang yang berada paling dekat dengan kita. Mereka adalah anggota keluarga atau sahabat kita.

2 bacaan hari ini memperlihatkan sikap anggota keluarga yang melukai sesamanya. Dalam Kejadian 3:12, merekam sikap anggota keluarga yang menyudutkan anggota keluarga lainnya. Adam menyalahkan Hawa yang membawakan buah pengetahuan yang baik dan jahat kepadanya. Padahal Adam sendiri yang memutuskan untuk memakannya. Markus 3:21, menunjukkan sikap anggota keluarga yang menghakimi anggota keluarga lainnya. Anggota keluarga Yesus, menganggap-Nya tidak waras akibat kebingungan dan ketidakmampuan mereka untuk mengenali dimensi keilahian Yesus dalam mujizat yang dibuat-Nya.

Hal yang sama juga dapat terjadi di dalam keluarga kita. Orangtua yang menuduh, membedakan, menghakimi, membandingkan, membicarakan anaknya di depan orang lain. Tanpa sadar tindakan yang dilakukan oleh orangtua menyakiti anak-anak mereka.

Sikap anak yang meremehkan, menyepelekan dan merendahkan orangtua yang tidak lagi ‘menghasilkan apa-apa’ untuk anaknya. Sikap saudara yang tidak menghargai, saling merendahkan dan membandingkan satu dengan yang lain, tanpa sadar juga memberikan luka yang berdampak dalam relasinya dengan orang lain yang ada disekitarnya.

Di tengah situasi itu kita memiliki 2 pilihan: pulih atau terus membiarkan luka itu menguasai hidup kita. Jika membiarkan dan melupakannya, luka itu tetap ada dan mengendalikan hidup maka jangan heran ketika kita juga melukai orang lain dengan cara yang sama kita dilukai. Kita yang tadinya menjadi korban, kini bisa menjadi pelaku bagi orang lain. Tetapi jika kita memilih untuk pulih, maka perlu keberanian untuk mengorek luka, mengakuinya sebagai bagian dalam perjalanan hidup yang Tuhan ijinkan hadir untuk membentuk kita. Untuk pulih ada 3P yang harus kita pahami: 1. Potensi bahwa setiap orang dapat melakukan kesalahan. Maka sadarilah bahwa kita pun punya potensi untuk melukai orang terdekat kita. 2. Pengampunan Allah  memberi kita kehidupan dan memanggil kita untuk mengampuni orang yang telah melukai kita. Mzm 130:3-4 berkata, “Jika Engkau, ya TUHAN, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan? Tetapi pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang.”. 3. Pertumbuhan spiritual yang lebih baik dapat dialami melalui kegagalan, penderitaan, luka yang kita miliki. Itu semua merupakan latihan untuk memurnikan diri kita.

Saya teringat sebuah kutipan dari film Wonder, “We all have marks on our face.  This is the map that shows where we’ve been and it’s never, ever ugly.”. Setiap luka yang kita miliki dalam hidup ini menandai hal-hal apa saja yang pernah kita lalui dan itu tidak pernah buruk ketika kita bisa melihatnya sebagai anugerah Tuhan yang membentuk hidup ini.

Sepenggal doa bagi setiap hati yang terluka dan mau pulih dalam anugerah Allah:

Bagi setiap luka yang kami rasakan, PULIHKANLAH. Bagi setiap luka yang disebabkan oleh kami, PULIHKANLAH. Bagi setiap hubungan yang menuju kehancuran tanpa kami sadari, PULIHKANLAH. Bagi setiap orang yang terluka oleh karena tindakan kami, SADARKANLAH dan mampukanlah kami mengingatnya saat ini. Hilangkanlah segala kepahitan dalam hati dan isilah setiap ruang yang kosong dengan ANUGRAH dan CINTA-MU.

                                                                                    Pdt. DRS

Leave a comment