BERTOBAT DAN BUKAN MENGHAKIMI

news-thumb1280

(Yehezkiel 18:1-4, 25-32, Mazmur 25:1-9, Filipi 2:1-13, Matius 21:23-32)

Ada banyak orang beragama yang merasa aman, yakin pasti diselamatkan dan masuk sorga oleh karena mereka telah menunjukkan ketekunan dalam mempelajari ajaran agamanya dan rajin melaksanakan berbagai ritual keagamaan. Meskipun dalam hidup keseharian mereka kadang mereka masih melakukan berbagai kecurangan, kejahatan, dan banyak ketidakbenaran dalam berbisnis atau dalam mencapai apa yang mereka inginkan. Kesalehan hidup keagamaan mereka hanya berhenti sampai batas pengetahuan dan ritual, tidak menyentuh kehidupan mereka sehari-hari. Mereka merasa berhak untuk menilai atau menghakimi orang lain, yang tidak memiliki pengetahuan dan tidak melaksanakan ritual keagamaan seperti mereka, sebagai orang berdosa yang akan masuk neraka.

Para Imam dan tua-tua bangsa Israel yang datang menjumpai Yesus di dalam Bait Allah adalah kelompok orang yang memiliki hidup keagamaan seperti itu. Mereka memiliki banyak pengetahuan tentang iman percaya mereka dan rajin menjalankan kewajiban keagamaan, bahkan mereka menjadi pemimpin umat. Mereka percaya dan mengakui bahwa Tuhan Allah adalah Allah yang Mahakudus, yang menghendaki kekudusan. Tetapi dengan tidak takut kepada Allah, mereka mempermainkan kekudusan Allah. Ada banyak ketidakbenaran yang mereka lakukan dalam praktek keagamaan mereka. Rumah Allah, yang seharusnya menjadi rumah yang mendatangkan damai sejahtera bagi umat, malah mereka jadikan tempat untuk mendapat dan meraup keuntungan bagi diri mereka sendiri. Allah tidak berkenan kepada kesalehan hidup keagamaan yang hanya berhenti pada batas ritual. Itu sebabnya Tuhan Yesus datang dan membersihkan rumah Allah dari praktek orang-orang yang atas nama Tuhan, melakukan kejahatan dan mencari keuntungan (Matius 21:12-17).

Teguran yang Tuhan Yesus sampaikan kepada para imam, ahli- ahli Taurat dan tua-tua orang Yahudi itu begitu jelas. Tetapi kesalehan hidup keagamaan mereka, membuat mereka merasa memiliki otoritas Ilahi untuk mempertanyakan apa yang Tuhan Yesus lakukan (Matius 21:23). Sehingga bukan pertobatan yang mereka hasilkan ketika mereka mendapat teguran, mereka malah memilih untuk menilai dan menghakimi Tuhan Yesus yang berani menegur praktek keagamaan mereka. Kesalehan palsu itu telah memberikan kepada mereka rasa aman palsu, yang menghalangi mereka untuk bertobat.

Tuhan Yesus mengajak mereka untuk melihat diri mereka melalui perumpamaan yang diceritakannya mengenai seorang bapa dengan dua orang anak laki-lakinya (Matius 21:28-32). Para imam, ahli Taurat dan Tua-tua Yahudi digambarkan seperti anak sulung yang terlihat begitu taat. Ketika sang bapa memintanya melakukan sesuatu, ia mendengar dan mengerti apa yang dikehendaki bapanya. Ia menjawab dengan begitu baik dan menyenangkan. Tetapi sama sekali tidak melakukan apa-apa untuk mewujudkan kehendak sang bapa.

Keadaan para imam, ahli Taurat dan Tua-tua Israel dikontraskan dengan para pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal, orang- orang yang dipandang sebagai orang berdosa. Tuhan Yesus menggambarkan mereka seperti anak bungsu, yang dengan tanpa berpikir panjang menolak untuk taat kepada perintah sang bapa dan lebih memilih jalannya sendiri. Tetapi kemudian ia sadar, meninggalkan jalannya dan memilih untuk melakukan apa yang dikehendaki bapanya.

Melalui perumpamaan tersebut, Tuhan Yesus ingin membuka pikiran mereka, bahwa bukan orang-orang yang punya pengertian, keyakinan dan kesetiaan melakukan kewajiban keagamaan yang diperkenan Allah, melainkan orang-orang yang dapat melakukan dan mewujudkan kehendak Allah dalam kehidupannya sehari-hari. Orang-orang yang diperkenan Allah itu bukan orang yang sempurna, tanpa salah, melainkan orang biasa yang masih bisa melakukan kesalahan, hanya mereka dengan rendah hati selalu bersedia menerima teguran dan memperbaiki kesalahan. Mereka bisa menyadari dan menyesali kesalahannya, lalu bertobat. Pertobatan yang tidak hanya diucapkan dengan mulutnya, tetapi juga dinyatakan dalam kehidupannya.

Jangan merasa bangga jika kehidupan kekristenan kita hanya sampai pada tahap memiliki pengetahuan tentang iman Kristen dan menjalankan kewajiban keagamaan sebagai seorang Kristen. Hanya dengan memiliki banyak pengetahuan Alkitab, rajin beribadah setiap hari Minggu, tekun berdoa dan giat melayani, hidup kita belum menjadi hidup yang diperkenan Allah. Jika hidup kekristenan kita hanya berhenti sampai di titik itu maka kita tidak lebih baik dari para Imam dan Tua-tua, pemimpin agama bangsa Israel yang ditegur oleh Tuhan Yesus. Pengetahuan dan pengakuan kita akan Allah harus membawa pertobatan dan pembaruan dalam hidup kita.

LN

Leave a comment