BERTEMU TUHAN, BERSAKSI BAGI-NYA

news-thumb1280

(1Samuel 3:1-10, Mazmur 139:1-6, 13-18, 1Korintus 6:12-20, Yohanes 1:43-51)

Dalam Minggu Epifani kita diajak untuk melihat bahwa Allah yang tidak mungkin dilihat dan dikenal oleh kita, telah berulang kali dan melalui berbagai macam cara berusaha untuk menyatakan diri-Nya kepada kita, manusia, sejak jaman dahulu kala. Pada puncak penyataan diri-Nya, di jaman akhir ini Allah telah menampakkan dan memperkenalkan diri-Nya dalam rupa manusia, Yesus Kristus, Anak yang dikasihi-Nya. Sehingga manusia yang tadinya tidak mungkin memiliki pengetahuan dan pengenalan akan Allah, kini menjadi mungkin, karena Allah sendiri telah memberi anugerah dengan kepada kita. Melalui bacaan kita hari ini kepada kita dinyatakan bahwa Allah tidak hanya menyatakan atau memperkenalkan diri-Nya kepada kita, tetapi Ia juga menyatakan dengan jelas bahwa Ia mengenal setiap kita dengan baik. Ia mengenal kita dengan nama kita masing-masing.

Samuel muda dicatat dalam Alkitab, sudah tinggal di Bait Allah sejak kecil ketika ia diserahkan oleh ibunya kepada Allah. Samuel sejak kecil sampai ia tumbuh menjadi seorang anak muda, telah melakukan banyak pekerjaan pelayanan bagi Allah di Bait Allah, sebagaimana yang diajarkan dan dipercayakan oleh imam Eli kepadanya. Samuel mungkin sering mendengar pengajaran dari imam Eli tentang siapakah Tuhan dan bagaimanakah manusia (Samuel) harus hidup di hadapan Tuhan. Samuel telah tumbuh menjadi seorang pelayan Tuhan, yang setia melakukan apa yang harus dilakukannya. Tetapi ia hanya sekedar melakukan apa yang diajarkan dan diperintahkan kepadanya oleh imam Eli, Samuel sendiri belum mengenal Tuhan, karena pada masa itu Tuhan jarang berfirman dan menyatakan penglihatan atau penampakkan diri-Nya. Semua pelayanan yang Samuel lakukan hanya menjadi aktivitas sehari-hari yang biasa dilakukan sejak ia ada di Bait Allah bersama imam Eli.

Tetapi semua menjadi berbeda ketika Samuel mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan. Samuel tahu bahwa Tuhan bukan hanya keberadaan yang dilayaninya dalam keheningan semata, Tuhan mengenalnya secara pribadi dan memanggilnya dengan namanya, “Samuel…Samuel”. Lebih dari itu, Samuel juga mendengar bagaimana Tuhan berkata-kata, menyatakan bahwa Ia akan bertindak atas segala dosa dan pelanggaran yang dilakukan hamba-hamba- Nya.Tuhan, Allah yang hidup, Ia mengetahui segala sesuatu yang dilakukan umat-Nya dan orang-orang yang melayani-Nya. Pengalaman perjumpaan itu membuat Samuel tumbuh dewasa dan menjadi seorang pelayanan Tuhan yang berintegritas. Ia melakukan dengan setia dan benar setiap amanah yang dipercayakan kepadanya, bukan sebagai kebiasaan semata, tetapi karena ia telah mengalami perjumpaan dengan sosok pribadi yang dilayani-Nya.

Andreas, Petrus, Filipus, Natanael, Paulus, saudara dan saya adalah orang-orang yang tidak hanya diberi anugerah untuk mengenal Tuhan, tetapi Tuhan juga menyatakan bahwa Ia mengenal setiap kita secara pribadi, dengan nama kita masing-masing. Tuhan memberi diri untuk dijumpai oleh setiap kita dengan berbagai pengalaman pribadi yang Tuhan nyatakan, supaya kita tahu bahwa Ia mengenal kita, bahwa Ia memanggil kita untuk mengikut-Nya dengan setia, bahwa Ia ingin kita menyaksikan dan menceritakan kepada banyak orang siapa Dia dan apa yang dilakukan-Nya. Kiranya pengalaman perjumpaan kita pribadi dengan Tuhan menolong kita untuk mengikut Dia dengan lebih sungguh dan melayani Dia dengan lebih giat. Tuhan memberkati.

LN

Leave a comment