Bersiap Menabur

12 jul

Matius 13:1-9, 18-23

Perumpamaan tentang seorang penabur tentu tidak asing bagi kita. Sang Penabur melambangkan orang yang memberitakan firman Allah. Benih melambangkan firman Allah itu sendiri lalu tanah tempat benih itu jatuh melambangkan hati manusia. Dalam perumpamaan ini kita mengetahui bahwa ada 4 sikap orang yang mendengarkan firman Allah dan digambarkan dengan 4 jenis tanah. Pinggir jalan/ tanah yang keras, tanah yang berbatu-batu, tanah dengan semak duri dan tanah yang baik. Rick Warren membahasakannya dengan istilah pikiran yang tertutup (tanah yang keras), pikiran yang dangkal (tanah yang berbatu-batu) dan pikiran yang kacau (tanah dengan semak duri) serta pikiran yang siap mendengarkan (tanah yang baik). Rick Warren kemudian menggunakan perumpamaan ini untuk mengingatkan para pembaca yang seringkali merasa tidak mendapat apa-apa dari suatu kotbah. Ia mengatakan cek sikap kita ketika mendengarkan kotbah, sebab Allah bisa memakai siapa saja untuk berbicara kepada kita asalkan kita memiliki sikap rendah hati. Sikap kita ketika menerima firman Allah akan menentukan apakah firman itu akan menghasilkan buah atau tidak. Seperti pesan yang juga ditegaskan oleh Tuhan diakhir perumpamaan-Nya, “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!”.

Inilah pesan yang seringkali disampaikan ketika membahas perumpamaan tentang seorang penabur. Pesan untuk menyiapkan hati dalam mendengarkan firman Allah. Namun, perumpamaan ini memiliki pesan yang tersirat bagi ‘sang penabur’ itu sendiri, yaitu mereka yang memberitakan firman Allah. Jadi, Tuhan tidak hanya menyampaikan pesan kepada orang banyak yang mendengarkan tetapi juga kepada para murid untuk mempersiapkan mereka dalam menerima respon dari para pendengar firman Allah. Para pemberita harus mampu menyiapkan diri dalam menyampaikan pesan kepada para pendengarnya, sekaligus harus siap dengan respon atas pemberitaan mereka. Bahwa, tidak semua pendengar akan memberi respon sesuai dengan harapan dari sang pemberita itu sendiri. Pesan ini diberikan kepada para pewarta firman agar tidak mudah patah semangat ketika menerima respon yang tidak seperti harapan mereka. Bukankah hal ini yang dialami oleh Tuhan Yesus sendiri. Pintu rumah ibadah tertutup bagi-Nya, para pemimpin agama menjadi pengecam yang jahat dan siap untuk menghancurkannya. Banyak yang mendengar kotbahnya, tetapi hanya sedikit yang sungguh mengalami perubahan. Banyak orang yang datang kepada-Nya hanya untuk memetik keuntungan dari kuasa penyembuhan-Nya, lalu kemudian pergi dan melupakan-Nya. Jika Tuhan mengalami berbagai respon seperti ini, maka para murid (termasuk kita saat ini) juga harus mempersiapkan diri dengan berbagai sikap itu.

Sekalipun tidak selalu benih yang ditabur akan memberi respon yang baik, ingat juga bahwa tidak semua benih yang ditabur akan mengalami kegagalan. Ada benih yang berpotensi jatuh di tanah yang baik, bertumbuh dan menghasilkan buah sampai ratusan kali lipat banyaknya. Benih yang jatuh di tanah yang baik, kelak akan bertumbuh tetapi sang penabur tidak dapat mengharapkan hasil yang instan. Benih itu membutuhkan waktu untuk bertumbuh dan berbuah.

Kapan waktunya benih itu akan bertumbuh dan berbuah? Tidak ada yang tahu. Siapa pendengar yang siap mendengarkan firman seperti tanah yang baik? Tidak ada yang tahu, selain Tuhan. Lalu, bagaimana sikap kita sebagai para murid yang diutus untuk memberitakan firman Allah? Tetaplah tekun memberitakan firman-Nya dalam keadaan apapun. Siapkan diri untuk menerima respon apapun dari para pendengar. Ingatlah juga bahwa ketika firman itu pada akhirnya bertumbuh dan berbuah, semuanya merupakan karya Allah, tidak ada tempat untuk kesombongan. Jangan putus asa memberitakan firman, sekalipun sepertinya tidak membuahkan hasil dan berdampak. Kita tidak pernah tahu hasil dari firman Allah yang kita beritakan terhadap hidup seseorang. Sebab, seperti orang yang kenyang setelah makan 5 buah bakpao. Dia bukan kenyang karena memakan bakpao ke-5, ke-4 atau ke-3, tetapi ia kenyang karena memakan 5 buah bakpao. Semua bakpao itu berperan untuk membuat orang itu akhirnya kenyang. Kita tidak tahu apakah firman yang diberitakan akan bertumbuh dan berbuah, sekalipun demikian teruslah bekerja dengan semangat memberitakan firman Allah dalam berbagai situasi. Kamu dan saya adalah penabur yang Allah utus di tengah dunia. Siapkan diri untuk terus menabur ketika waktu masih siang, sebab akan datang malam ketika kita harus beristirahat. Tuhan pasti menolong kita.

                                                                                                DRS

Leave a comment