Bersahabat dan Partisipatif Dalam Cinta Kasih

news-thumb1280

Mzm 8; Rm 5:1-5; Yoh 16:12-15

Pernahkah saudara mendengar kata Trinitas, Tritunggal atau Trinity? Jika ya, manakah kata yang paling tepat? Tidak ada yg lebih atau paling tepat, sebab ketiganya memiliki makna yang sama hanya berasal dari bahasa yang berbeda. TRITUNGGAL dalam bahasa Indonesia, TRINITY dalam bahasa Inggris yang diserap dari kata TRINITAS (Trinus (tiga) & Unitas (1)) dalam bahasa Latin. Ajaran Trinitas seringkali dipandang sebagai ajaran kurang penting jika dibandingkan dengan ajaran keselamatan. Padahal ajaran Allah Tritunggal merupakan ajaran yang seringkali dipertanyakan oleh Saudara-saudara kita yang berbeda agama. Pada sisi yang lain ajaran Tritunggal merupakan pusat dari teologi kekristenan yang terkait dengan ajaran mengenai keselamatan, Yesus sebagai Tuhan, dsb (The Oxford Dictionary of The Christian Church).

Istilah Tritunggal tidak dapat kita temukan secara langsung di dalam Alkitab, sebab istilah ini merupakan hasil perumusan pengakuan iman gereja dalam memahami seluruh sejarah keselamatan di dalam Alkitab. Seperti yang ditulis dalam Yohanes 16:15 ‚ÄúSegala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku.” Dari ayat ini kita dapat melihat bahwa ada tiga pribadi (Bapa, Anak dan Roh Kudus) yang menyatu begitu erat dan berkarya bersama-sama. Apa yang ada pada Bapa, ada pada Anak dan Roh Kudus; apa yang ada pada Anak, ada pada Bapa dan Roh Kudus; apa yang ada pada Roh Kudus, ada pada Bapa dan Anak. Ketiganya berkarya bersama, saling mengisi, menopang, menolong dan menguatkan.

Konsep Tritunggal ini dapat dipahami dengan konstruksi Perikoresis. Ketiganya menyatu dalam sebuah tarian bersama, saling berelasi memberi ruang satu sama lain. Saya membayangkannya seperti baling-baling kipas angin. Sebuah kipas dengan tiga buah baling-baling yang berputar bersama untuk menghasilkan angin (karya). Ketika ketiga baling-baling tersebut berputar, kita tidak dapat membedakannya. Ketiganya berputar, saling mengisi, saling mengitari, tapi juga tidak saling tercampur, untuk menghasilkan sebuah karya bersama. Demikian juga Bapa, Anak dan Roh Kudus ketiganya senantiasa hadir dan berkarya bersama. Baik dalam penciptaan, penebusan bahkan sampai saat ini. Tiga pribadi itu tidak pernah hanya memikirkan kepentingannya sendiri. Ketiganya hadir dalam tarian persekutuan cinta kasih yang setara.

Dalam Mazmur, manusia diundang untuk ikut berpartisipasi menari dan berkarya bersama Allah Trinitas di tengah dunia. Undangan ini mengajak manusia untuk menghadirkan persekutuan Allah Tritunggal yang setara dan penuh kasih di tengah dunia. Itu sebabnya kita tidak dapat mengatakan bahwa doktrin Tritunggal merupakan sesuatu hal yang terpisah dan tidak ada hubungannya dalam kehidupan sehari-hari. Doktrin Tritunggal justru sangat praktis dan dapat dilakukan. Mari perhatikan relasi antara kita dengan pasangan, apakah kita melihat dan memperlakukannya sebagai rekan yang setara atau lebih rendah. Dalam relasi antara orangtua dengan anak. Sebagai orangtua apakah kita telah memberi ruang untuk mendengarkan pendapat dari anak sekalipun masih muda. Begitu juga sebaliknya, apakah sebagai anak kita juga telah mengasihi dan menghormati orangtua.

Selamat merayakan Minggu Trinitas. Selamat memeriksa diri, sungguhkah hidup kita mencerminkan persekutuan Allah Trinitas yang penuh cinta kasih dan setara tanpa memandang rendah sesama. Allah Trinitas menginspirasi, menguatkan dan menopang kita untuk menyatakannya di tengah dunia.

DRS

Leave a comment