Bernyanyi Bersama untuk Kemuliaan Tuhan

news-thumb1280

II Tawarikh 20:1-26

Bernyanyi bagi Tuhan sudah menjadi kebiasaan umat Tuhan sejak zaman Perjanjian Lama, Perjanjian baru hingga gereja pada masa kini. Mengungkapkan rasa cinta, rasa syukur, rasa kagum dan pergumulan terhadap Tuhan melalui nyanyian sudah menjadi ciri khas kekristenan. Setiap kali orang Kristen bertemu untuk beribadah, lagu-lagu rohani pasti dinyanyikan. Bahkan, sebagian besar jam kebaktian didominasi oleh nyanyian-nyanyian bersama kepada Tuhan. Itu sebabnya, kita perlu selalu memeriksa motivasi dan tujuan kita, agar puji-pujian dan ibadah kita berkenan kepada-Nya.

Teks di atas memberi kita contoh betapa pentingnya percaya dan hidup memuji Tuhan. Suatu ketika, Raja Yosafat mendengar kabar bahwa bani Moab, bani Amon dan sepasukan orang Meunim datang memerangi kerajaannya. Mendengar itu Yosafat merasa sangat takut (ay 1-2). Namun, di dalam ketakutannya, Yosafat mengambil keputusan untuk mencari Tuhan. Ia menyerukan seluruh umat turut berdoa dan berpuasa, agar Tuhan memberi mereka kelepasan. Seruan itu disambut baik seluruh umat. Mereka datang dari berbagai kota dan berkumpul menjadi satu. Mereka berdoa dan berpuasa. Mereka “mencari Tuhan”, yakni merindukan kehendak dan perkenan Tuhan (ay 4).

Sikap berkumpul, berdoa dan memuji Tuhan bersama-sama ini menunjukkan kekompakan dan kesehatian umat di hadapan Tuhan. Mereka bersatu menghadap Tuhan. Meski jumlah orang bukanlah syarat terkabulkan suatu doa, namun Tuhan senang melihat umat-Nya hidup bersatu dan bersehati. Apalagi, mereka bersatu untuk mencari kehendak dan pertolongan dari-Nya. Ketika seluruh umat sudah berkumpul, Yosafat menyembah bahwa Tuhan berkuasa di kerajaan sorga. Tuhan memerintah semua bangsa. Dengan keperkasaan-Nya, tidak satu bangsa pun tahan menghadapi Tuhan. Tuhan juga telah memimpin Israel dari Mesir dan menempatkan-Nya di Tanah Perjanjian. Dengan keyakinan tersebut, Yosafat memohon agar Tuhan menolong umat-Nya dari tangan bani Moab dan bani Amon. Sebagai manusia, ia mengaku tidak tahu harus berbuat apa-apa lagi, selain “mata kami tertuju kepada-Mu” (ay 12).

Sikap Yosafat ini patut menjadi sikap semua orang yang mencari Tuhan. Orang beriman harus selalu memusatkan hati dan pikirannya kepada Tuhan. Tetapi faktanya, banyak orang gagal memusatkan hatinya kepada Tuhan. Dalam situasi sulit, hati mereka lebih dikuasai oleh kekecewaan, ketakutan dan kekuatiran. Mereka terjebak dengan mengandalkan kekuatan diri. Mereka enggan berdoa dan memuji Tuhan. Dan, sekalipun memuji Tuhan, pujian itu tidak berasal dari hati yang percaya dan berserah kepada Tuhan. Saat beribadah dan bernyanyi bersama, tidak sedikit orang lebih fokus kepada diri sendiri ketimbang kepada Tuhan. Orang-orang ini mungkin berpikir:

  • “Buat apa menyanyi keras-keras, buang-buang tenaga saja”.
  • “Aku menyanyi atau tidak, nggak ngaruh. Kan sudah banyak orang yang
    menyanyi”.
  • “Aku ingin bernyanyi lebih keras, supaya orang tahu betapa bagusnya
    suaraku”.
  • “Suaraku memang lebih bagus daripada suara orang lain, sebab aku bisa
    menyanyi dengan jenis suara sopran, tenor, bass, dan alto”.

Menurut pengalaman Yosafat dan umat Israel, yang terpenting dalam memuji Tuhan bukanlah banyaknya orang atau bagusnya suara. Orang Israel memuji Tuhan sampai membawa istri dan anak-anak mereka (ay 13), bukan supaya jumlah mereka banyak. Itu semua adalah bentuk kesungguhan dan kebergantungan mereka kepada Tuhan. Semua orang bersandar kepada Tuhan dan memuliakan kekuasaan-Nya. Hingga akhirnya, Tuhan berfirman melalui Yahaziel: “Janganlah kamu takut dan terkejut karena laskar yang besar ini, sebab bukan kamu yang akan berperang melainkan Allah” (ay 15).

Ketika firman Tuhan itu didengar Yosafat dan seluruh umat, mereka sujud ke tanah. Mereka siap berperang, tetapi bukan dengan mengandalkan pedang, melainkan dengan bersama-sama membawa nyanyian kepada Tuhan. Mereka menghadapi musuh bukan dengan kekuatan manusia, melainkan dengan keyakinan iman kepada Tuhan. Akhirnya, Tuhan menolong umat-Nya dengan membuat musuh-musuh umat-Nya saling menikam dan membunuh.

Dalam pelayanan kristiani, seringkali musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri yang terus berusaha merebut kemuliaan Tuhan. Kita perlu menghadapinya, bukan dengan pedang atau ancaman, melainkan dengan terus mengarahkan hati dengan rela kepada Tuhan. Mari, bangunlah motivasi dan tujuan yang benar dalam melayani Tuhan. Bernyanyilah untuk memuliakan Tuhan. Melayanilah dengan nyanyian agar kasih dan kemuliaan Tuhan semakin nyata bagi dunia. Tuhan memberkati. Amin.

MM

Leave a comment