BERJAGA SAMBIL BERDOA

news-thumb1280

Lukas 21 : 25-36

“Aduh, udah dimana sih mobilnya. Ndak jelas ni. Di telepon nggak diangkat. Di wa-in ndak dibales. Lama banget sih kabarinnya!”, keluh seorang perempuan kepada temannya. “Lah, bukannya kamu barusan pesen ya?”, respon temannya. “Iya, memang barusan pesen. Tapi ini dia nggak kasih kabar. Nggak jelas banget udah dimana. Nanti ditungguin tahu-tahu dibatalin lagi.” Inilah sepenggal percakapan yang sering kita dengar atau mungkin kita ucapkan ketika menantikan pesanan transportasi online yang tak kunjung datang. Perasaan galau, kesal, dan merasa buang-buang waktu, segera menghampiri ketika „digantung‟ dalam ketidakjelasan apalagi adanya kemungkinan batal datang. Pada dasarnya manusia ingin mengetahui segala sesuatu. Itu sebabnya berada dalam penantian tanpa kejelasan yang pasti akan memunculkan perasaan tidak nyaman.

Demikian juga yang dirasakan sebagian orang dalam menantikan kedatangan Tuhan kembali. Penantian itu disikapi dengan perasaan yang sama, yaitu menginginkan kepastian dan kejelasan. Tidak mengherankan ketika ada orang yang menyatakan bahwa dirinya mengetahui waktu dan bagaimana kedatangan Tuhan terjadi, banyak orang percaya dan menjadi pengikutnya. Seperti Jim Jones di Guyana (Amerika Latin) yang meramalkan 18 November 1978; Joseph Kibwetere di Uganda (Afrika) meramalkan 17 Maret 2000 dan di Indonesia pun terjadi ada dalam diri Mangapin Sibuea di Bandung meramalkan 10 November 2003.

Padahal berkali-kali dicatat di dalam Alkitab bahwa tidak ada yang tahu kapan dan bagaimana terjadinya kedatangan Tuhan kembali. Betul bahwa ada catatan mengenai tanda-tanda kedatangan-Nya. Seperti di ayat 25,”Dan akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut.”. Namun, bukankah tanda-tanda itu bisa terjadi kapan pun dan dimana pun. Bukankah dari dulu bencana alam juga sudah terjadi? Namun, setiap kali ada bencana yang  terjadi secara spontan sebagian orang lalu mengkaitkannya dengan kedatangan Tuhan Yesus kembali.

Hal yang ditekankan dalam Alkitab dan diingatkan berkali-kali adalah cara dalam menantikan kedatangan Tuhan Yesus kembali. Mengapa hal ini yang ditekankan? Sebab kedatangan Tuhan adalah hal yang pasti, Ia pasti akan datang kembali. Oleh sebab itu, bagian kita adalah mempersiapkan diri menantikan kedatangan-Nya. Ini yang seringkali kita lupa untuk lakukan karena keasyikkan menebak waktu dan bagaimana terjadinya kedatangan Tuhan kembali.

Dalam bacaan kita ada 2 hal yang dilakukan di masa penantian, yaitu:

– Menjaga diri dan hati agar tetap mengarah kepada Tuhan
Ayat 34, “Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat.”

– Berjaga dan berdoa
Ayat 36, “Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.” Cara mengisi waktu menanti itu yang penting untuk kita periksa tiap saat supaya ketika Ia datang kita siap untuk menyambut-Nya. Penantian itu tidak diisi dengan pesta pora melainkan dengan berjaga dan berdoa. Berdoa adalah bentuk komunikasi dengan Tuhan. Ketika kita berdoa, sebenarnya kita sedang mengakui ketidakmampuan kita untuk berjaga-jaga dengan kekuatan sendiri. Itu sebabnya dengan berdoa kita mempercayakan hidup dan bergantung penuh kepada Tuhan untuk bertahan sampai Ia datang kembali.

Inilah 2 hal yang perlu kita evaluasi dalam minggu Adven I. Apakah kita sudah mengarahkan hati dan diri kepada Tuhan dan menyatakan sikap hidup yang terus berjaga dan berdoa? Jika pemerintah mengeluarkan jargon „suami siaga (siap antar jaga)‟ bagi istri yang sedang hamil. Maka kita diingatkan menjadi orang Kristen siaga (siap berjaga dan berdoa) menantikan kedatangan Yesus kembali. “kiranya Dia menguatkan hatimu, supaya tak bercacat dan kudus, di hadapan Allah dan Bapa kita pada waktu kedatangan Yesus, Tuhan kita, dengan semua orang kudus-Nya.” (1 Tes 3:13).

DRS

 

Leave a comment