Berhenti Meragu, Percaya dan Bersaksilah

news-thumb1280

Yohanes 20:19-31

Pesta demokrasi melalui Pemilu yang kita helat 17 April lalu ternyata masih menyisakan persoalan. Dalam konteks pemilihan presiden dan waki presiden periode 2019-2024, kedua pasang kontestan sama-sama mengakui kemenangannya. Pengakuan kemenangan ini didasarkan pada sumber data internal yang dimiliki masing-masing dan diakui sebagai sumber paling valid. Akibatnya, kedua kandidat saling meragukan dan menolak hasil perhitungan lawan. Bahkan, ada juga yang meragukan dan menolak hasil perhitungan lembaga-lembaga survei versi quick count yang selama ini terpercaya. Atas situasi itu, semua pihak diminta menenangkan diri sampai KPU menyelesaikan real count. Real count akan menjadi bukti yang kelihatan untuk meyakinkan semua orang sekaligus menegaskan siapa yang akan memimpin negeri ini 5 tahun ke depan.

Bacaan Injil di atas juga berkisah tentang orang-orang yang meragu. Setelah mendengar berita dari para perempuan, pada pagi hari setelah kubur Yesus diketahui kosong, murid-murid menganggapnya omong kosong. Mereka sulit memahami bagaimana Sang Guru yang telah disalib dapat kembali hidup. Petrus, walau sudah melihat kubur kosong itu, tetap bertanya apa yang sebenarnya telah terjadi. Mereka bingung. Mereka takut dan gentar. Ayat 19 mencatat, “berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi”.

Di tengah rasa bingung dan takut tersebut, tiba-tiba Tuhan Yesus menampakkan diri kepada para murid. Ia hadir dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu” (ay 19). Yesus menghalau ketakutan dan keraguan para murid. Ia menunjukkan bekas paku pada tangan-Nya dan bekas tikaman pada lambung- Nya. Para murid pun percaya dan sangat bersukacita (ay 20). Sayangnya, kepercayaan itu tumbuh setelah melihat bukti-bukti yang kelihatan pada tubuh Tuhan Yesus. Panca indera mereka masih menjadi penentu kepercayaan mereka pada kuasa kebangkitan Tuhan. Begitulah, banyak orang terus menuntut bukti-bukti agar bisa mempercayai kesaksian yang mereka dengar.

Selama ini kita berpikir bahwa Thomaslah yang paling peragu. Thomas memang pernah berkata, “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya” (ay 25). Akan tetapi, sikap Thomas ini juga dimiliki semua murid. Mereka sulit percaya sebelum melihat dengan mata sendiri. Setelah melihat barulah mereka percaya. Untuk itu, Tuhan menegur mereka, “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” Artinya, kita percaya pertama-tama bukan karena melihat, melainkan karena peka dengan suara Roh Kudus di hati kita.

Kebangkitan Yesus memang di luar nalar kita. Banyak orang meragukan atau menolak kenyataan itu. Kebangkitan Yesus dianggap dongeng. Tahayul. Bahkan, demi menolak kebangkitan Yesus, orang merekayasa cerita: bukan Yesus yang mati. Yang disalib adalah Yudas Iskariot. Yudas mati dan tidak pernah bangkit. Sementara Yesus, diangkat ke sorga tanpa mengalami kematian.

Di tengah maraknya keraguan itu, kita memiliki tanggung jawab untuk bersaksi. Tugas utama seorang murid Kristus, yang telah mengalami kasih dan kuasa kebangkitan Yesus, adalah mempersaksikan fakta kebangkitan tersebut. Yesus berkata, “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu” (ay 21). Artinya, karya keselamatan di dalam Yesus harus terus diwartakan. Kabar Baik itu tidak boleh tenggelam oleh peradaban. Kabar keselamatan itu harus disebar sampai ke ujung bumi, supaya semakin banyak orang mengalami keselamatan dan pendamaian dengan Allah. Yang merindukan damai sejahtera ilahi di dalam Yesus bukan hanya orang Kristen, tetapi seluruh umat manusia yang berada di bawah tekanan dosa dan kebinasaan.

Untuk itu, kita harus bersaksi dengan cermat dan bijaksana. Usahakan agar berita Injil dapat dipahami dengan mudah. Berikanlah penjelasan yang baik mengenai Tuhan Yesus; yakni maksud kedatangan-Nya, sifat-sifat-Nya, buah pelayanan-Nya, dan alasan kerelaan-Nya mati di kayu salib, kuasa kebangkitan, hingga kenaikan-Nya ke sorga untuk memerintah sorga dan dunia. Bersaksilah baik saat berhasil dan makmur maupun saat susah dan penuh dengan tantangan. Bersaksilah baik kepada orang baik maupun kepada orang buruk dan jahat. Manfaatkanlah media sosial sebagai sarana digital preaching (bersaksi melalui teknologi). Satu orang berdosa saja bertobat, seluruh isi Kerajaan Sorga akan bersukacita. Tuhan kiranya memberkati iman dan kesaksian kita. Amin.

MM

Leave a comment