Bergereja dalam Kasih dan Relasi

17 mei

Yohanes 14:15-21

Pada situasi saat ini kita dikondisikan lebih banyak di rumah dari biasanya. Bahkan kita juga sedikit dikondisikan untuk beribadah di rumah masing-masing dan tidak bisa beribadah di gereja. Saat ini kita merasa seakan “dipisahkan” dari gereja dan jemaatnya. Namun apakah benar demikian kita seolah dipisahkan oleh aturan PSBB? Jawabannya adalah tidak. Kita tidak bisa dipisahkan dalam kasih dan relasi sebagai gereja karena “gereja bukan gedungnya tetapi orangnya.” Kita terikat dalam kasih dan relasi satu sama lain dalam kasih Allah Tritunggal (Allah Bapa, Yesus, dan Roh Kudus).

Dalam Yohanes 14:15-21 dijelaskan bahwa murid-murid Yesus telah diberitahukan suatu kenyataan bahwa mereka akan berpisah dengan Yesus. Akan tetapi berpisah di sini hanyalah fenomena kasat mata antara Yesus dan murid. Kenyataannya, murid masih bisa berelasi dan mengasihi Yesus walaupun mereka akan berpisah secara raga dengan Yesus. Maka dari itu Yesus tetap mengatakan suatu realitas dan perintah untuk murid mengasihi Yesus (ayat 15). Bahkan Yesus juga menyatakan suatu realitas kepada murid bahwa Bapa akan memberikan kepada mereka seorang Penolong yang lain—Roh Kebenaran (Roh Kudus) (ayat 16-17). Artinya keterpisahan fisik antara Yesus dengan murid termasuk kita orang-orang percaya tidaklah membatasi kasih dan relasi kita dengan Yesus. Bahkan kasih Allah berlimpah bagi mereka yang mengasihi Dia dan memampukan kita untuk hidup dalam kasih dan relasi dengan Tuhan dan sesama. Apa kasih yang berlimpah itu:

  1. Roh Kudus menyertai kita selamanya (ayat 16-17). Roh Kudus yang adalah Allah itu menyertai kita selamanya dan kita mengenal Roh Kudus itu karena Ia memberikan pengertian dan pengenalan kepada kita. Roh Kudus menolong, menghibur dan juga memimpin kita kepada kebenaran (bdk. Yoh. 16:13). Dalam situasi penuh ketidakpastian ini, Roh Kudus sedang terus berkarya dalam hidup kita dan memimpin kita kepada hidup benar di hadapan Tuhan.
  2. Yesus tidak pernah menginggalkan kita dan Ia akan kembali (ayat 18-19). Adalah benar bahwa Yesus adalah Imanuel (Allah beserta dengan kita). Yesus berjanji tidak akan pernah meninggalkan kita karena Ia adalah Allah yang hidup dan kekal dan akan memberikan kita hidup yang kekal itu. Di dunia kita dapat berpisah secara raga dengan orang yang dikasihi, sahabat, teman, tetapi di dalam Yesus keterpisahan raga tidak menjadi penghalang bagi kasih dan relasi kita dengan Tuhan dan sesama.
  3. Allah Tritunggal mengasihi kita (ayat 20-21). Betapa indahnya ketika kita disadarkan Yesus bahwa kita dikasihi Allah Bapa. Kita juga dikasihi Yesus, dan Roh Kudus menyertai, menghibur, dan memimpin kita. Jika Allah dipihak kita, siapakah yang dapat melawan? (Rm. 8:31). Jika Allah menjadi Pembela kita siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? (Rm. 8:35). Tidak ada yang dapat melawan dan memisahkan kita dari kasih Allah, bahkan kita adalah lebih dari pemenang (Rm. 8:37).

Dengan menyadari kita lebih dari pemenang karena Allah Tritunggal mengasihi dan menyertai kita, marilah kita hidup mengasihi Tuhan dan menjalankan perintah-Nya yakni untuk saling mengasihi sebagai satu tubuh Kristus (Yoh. 13:35) dan mengasihi sesama seperti dirimu sendiri. Mari kita hidup sebagai gereja dalam mengasihi dan berelasi kepada Tuhan dan sesama.

William Andreas Sitinjak

Leave a comment