BERBUAH DALAM RELASI DENGAN ALLAH DAN SESAMA

news-thumb1280

(Kisah Para Rasul 8:26-40, Mazmur 22:25-31, 1Yohanes 4:7-21, Yohanes 15:1-8)

Syarat untuk terbentuknya sebuah komunitas adalah adanya unsur yang sama dalam diri para anggotanya. Dalam komunitas iman Kristen, ada banyak unsur yang sama yang dimiliki oleh para anggota yang mempersatukan mereka sekalipun mereka berasal dari beragam suku, bangsa, budaya, bahasa, gender, pendidikan, status sosial dan ekonomi. Salah satu unsur yang mempersatukan mereka adalah pengakuan bahwa mereka semua sama-sama telah diperdamaikan dengan Allah dan sesama melalui kematian dan kebangkitan Kristus. Bahkan status sebagai orang-orang yang telah diperdamaikan itu bisa disebut sebagai alasan utama kesatuan mereka dalam komunitas iman Kristen. Kesatuan itu bukan semata-mata karena keinginan mereka atau perasaan sentimentil memiliki pengalaman yang sama, kesatuan itu adalah bagian dari konsekwensi dari status mereka. Sebagai orang-orang yang sudah diperdamaikan, mereka dipanggil untuk hidup dalam relasi yang baik dengan Tuhan dan dengan sesama.

Dalam Yohanes 15:1-8, Tuhan Yesus menggambarkan relasi tersebut dalam perumpamaan tentang pengusaha kebun anggur, pokok anggur dan ranting-rantingnya. Allah Bapa disebutkan sebagai pengusaha dan pemilik kebun anggur, yang akan menjaga dan merawat agar kebun anggur dapat menghasilkan buah yang terbaik. Melalui perumpamaan tersebut, Tuhan Yesus digambarkan sebagai pokok anggurnya, bukan sembarang pokok anggur, tetapi pokok anggur yang benar, yang sejati. Dan setiap kita, orang-orang yang sudah ditebus dan diselamatkan melalui kematian dan kebangkitan-Nya disebutkan sebagai ranting-rantingnya. Pohon anggur dijadikan model dalam perumpamaan ini karena keunikan tanaman ini, yang untuk dapat berbuah dengan baik, perlu diperhatikan dengan seksama dalam pertumbuhannya. Pengusaha atau petani kebun anggur harus merawat dan merapihkan ranting-rantingnya sedemikian rupa, agar ranting-ranting tersebut dapat berbuah dengan lebat secara optimal.

Ranting-ranting anggur tidak punya kemampuan untuk menghasilkan buah pada dirinya sendiri. Keberhasilan ranting anggur untuk menghasilkan buah ditentukan oleh relasinya dengan pokok anggur dan pengusaha atau petani kebun anggur. Disebutkan selama ranting tetap menempel, melekat dan bergantung penuh pada pokok anggur, maka ranting-ranting itu memiliki potensi dan kesempatan untuk menghasilkan buah. Perawatan yang diberikan oleh sang petani atau pengusaha, dengan membersihkan dan memangkas yang tidak perlu akan membuat ranting-ranting berbuah secara optimal. Melalui perumpamaan tentang ini, Tuhan Yesus mau mengatakan bahwa orang-orang yang telah ditebus melalui kematian dan kebangkitan-Nya, dipersatukan dalam diri-Nya, menjadi bagian dari diri-Nya. Mereka yang dulu hidup terpisah dari Allah dan juga terpisah dari sesama mereka karena dosa yang menguasai mereka, kini dapat kembali hidup dalam keterkaitan dengan Allah dan juga dengan sesama. Penebusan Kristus membuat mereka memiliki relasi yang baru, dengan Allah dan dengan sesama mereka manusia. Dalam relasi yang baru itu mereka dapat menghasilkan buah yang memuliakan Bapa dan menjadi berkat bagi sesama.

Setiap kita yang mengaku bahwa kita sudah ditebus dan diselamatkan oleh kematian dan kebangkitan Kristus, sudahkah kita hidup dalam relasi yang baik dengan Allah? Sudahkah kita hidup dalam relasi yang baik dengan sesama? Tanpa relasi tersebut, kita tidak akan menghasilkan buah dalam kehidupan kekristenan kita. Kristus memanggil kita untuk tinggal tetap di dalam Dia, dalam persekutuan dengan Allah Bapa, Sang petani dan pengusaha kebun anggur, dan juga dalam persekutuan dengan sesama ranting anggur yang menempel pada satu pokok anggur yang sama, yang benar, yang sejati. Kiranya Tuhan menolong kita. Amin.

LN

Leave a comment