Berbagi adalah Berkat

news-thumb1280

Lukas 12:13-21

Injil Lukas adalah salah satu bagian dari Alkitab yang cukup kritis terhadap kekayaan. Dalam Injil, hanya Lukas yang menuturkan cerita tentang pengemis yang bernama Lazarus, yang selama hidupnya tidak mendapatkan kepedulian orang kaya (Lukas 16:19-31), juga kisah tentang orang kaya yang bodoh (Lukas 12:13-21). Lukas hendak menggambarkan bahwa Yesus tidak anti kekayaan. Namun Yesus mengingatkan bahwa kekayaan itu dapat membuat manusia diperbudaknya. Manusia seringkali dipenuhi oleh perasaan iri hati dan kekuatiran berkenaan dengan kekayaan. Kekayaan dapat menjadi idolatry, hingga penghormatan kepada Allah pemberi berkat kekayaan memudar.

Itu sebabnya Yesus tidak menerima permintaan agar Dia menjadi penengah bagi perselisihan antar saudara mengenai harta warisan. Dia tahu perebutan warisan itu terjadi karena ketamakan (Lukas 12:15) dan hati yang diperbudak harta. Melalui sebuah perumpamaan, Yesus mengingatkan orang banyak bahwa harta bukanlah segala-galanya dalam hidup.

Orang kaya di perumpamaan itu disebut Yesus sebagai orang bodoh (Lukas 12:20). Tidak banyak ayat dalam Alkitab dimana Allah menyebut orang bodoh, maka fakta ini, dimana Allah mengkhususkan orang yang asyik dengan barang-barang duniawi sebagai bodoh, sungguh menyolok sekali. Dalam Perjanjian Lama orang yang berkata bahwa Allah tidak ada, disebut “bebal” (bodoh) (Mazmur 14:1; 53:1). Maka jika materialis kaya itu disebut bodoh, hal ini menyamakan dia dengan pihak yang menyangkal Allah.

Mengapa orang itu dinamakan bodoh? Ada beberapa sebab. Pertama, ia menyalahgunakan kekayaan yang diberikan Allah. “. . . aku tidak mempunyai tempat dimana aku dapat menyimpan hasil tanahku . . . aku akan menyimpan didalam lumbung-lumbungku segala gandum dan barang-barangku . . . aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah, dan bersenang-senanglah!” (Lukas 12:17-19). Orang ini melihat kekayaannya itu adalah hak dan miliknya, sebagai hasil kerjanya sendiri, dan ia tidak perlu bertanggung jawab kepada siapapun juga. Maka ia akan menyimpan dan menimbunnya untuk dirinya sendiri. Memang benar orang itu sendiri telah bekerja. Namun tanpa berkat dari Allah, yang menciptakan tanah dan membuat hasilnya berlimpah-limpah, tanah orang itu mungkin tidak mengeluarkan hasil apapun. Ia gagal melihat bahwa kekayaan itu datangnya dari Allah. Kegagalannya ini membuat orang itu membiarkan kekayaannya itu menjeratnya masuk kedalam ketamakan yang lebih besar (ingin lebih kaya lagi), materialisme, dan kekurangpekaan terhadap kebutuhan orang lain.

Kedua, sebab utama yang menjadikan kebodohan bagi orang kaya itu adalah bahwa ia mengizinkan perhatiannya bagi harta kekayaan duniawi melebihi perhatian yang jauh lebih penting yang seharusnya dimilikinya bagi kepentingan jiwanya. “Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil daripadamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?” (Lukas 12:20). Suatu hari, segala milik orang itu dan Anda terpaksa harus ditinggalkan. Sekarang, memang harta benda itu merupakan kepunyaan Anda dan orang itu untuk dipergunakan dengan betul atau disalahgunakan, tetapi suatu hari kelak semuanya itu akan diambil dari Anda dan orang itu dan Anda dan orang itu akan berdiri telanjang di hadirat Allah yang merupakan pencipta Anda dan orang itu. Bagaimana Anda dan orang itu akan berdiri pada hari itu? Apakah Anda dan orang itu akan berdiri sebagai seorang yang telah mengutamakan Allah lebih dahulu dan oleh karena itu Anda dan orang itu memandang barang milik Anda dan orang itu sebagai suatu pemberian dari Dia untuk dipakai bagi pekerjaan Allah? Atau apakah Anda dan orang itu merupakan salah satu dari sekian banyak orang yang telah menjual dirinya sendiri bagi harta benda duniawi dengan menolak semua yang lain, dan telah mati tanpa pengharapan untuk diselamatkan?

Yesus menutup perumpamaan ini dengan tiga kata terakhir, yang merupakan petunjuk dari Yesus tentang sasaran hidup yang seharusnya dikejar oleh orang itu. Ia harus berusaha menjadi “kaya dihadapan Allah”. Ungkapan ini berarti bahwa orang harus kaya dalam hal-hal rohani, yang akan bertahan selama-lamanya, berlawanan dengan menjadi kaya dalam hal-hal materi melulu, yang bersifat sementara. Salah satu harta kekayaan rohani adalah iman. Yakobus berkata, “Bukankah Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan yang telah dijanjikanNya kepada barangsiapa yang mengasihi Dia?” (Yakobus 2:5). Harta rohani yang lain adalah perbuatan baik. Rasul Paulus berkata kepada Timotius untuk memberitahu jemaatnya “agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang” (1 Timotius 6:18-19).

Pertanyaan Diskusi

  1. Menurut Anda, bagaimana mendapatkan harta kekayaan rohani atau kaya dihadapan Allah?
  2. Menurut Anda, apa yang seringkali menjadi rintangan untuk menjadi kaya dihadapan Allah?

Pertanyaan Sharing

  1. Ceritakan secara singkat sikap Anda terhadap kekayaan duniawi?
  2. Ceritakan secara singkat bagaimana Anda memiliki kekayaan rohani?

TH

Leave a comment