BERANI MENYAMPAIKAN SUARA ILAHI

news-thumb1280

Maleaki 3:1-4; Luk 1:68-79; Luk 3:1-6

Ada 3 dampak dari kehadiran seseorang di tengah komunitas, yaitu:

1. Tidak berdampak apa-apa
Orang tipe ini sering mengucapkan kata-kata, “udah ndak usah ngomong diem aja, saya mah ikutan aja, jangan tanya saya.”. Ketika ditanya, orang tipe ini tidak memberikan pendapat ataupun tanggapan apalagi pertimbangan. Hadir tidak hadir, tidak ada bedanya karena tidak akan mengubah apapun. Kebanyakan orang memilih kategori ini ketika ia hadir dalam sebuah komunitas. Sayangnya sebagai orang Kristen kita tidak bisa memilih kategori ini. Kehadiran kita harus memiliki dampak dan bukan sekedar ikut-ikutan saja.

2. Dampak Negatif
Pernah tidak bertemu dengan orang yang kehadirannya selalu membawa dampak negatif? Rasanya kalo ketemu orang tersebut pengen marah, kesal dan curiga sebab kalo dia hadir pasti akan ada masalah yang terjadi. Tentu kita berharap jangan sampai kehadiran kita membawa dampak seperti ini.

3. Dampak Positif
Ini dampak yang diharapkan muncul ketika kita hadir dalam sebuah komunitas. Jelas inilah panggilan hidup kita sebagai gereja, yaitu membawa dampak positif bagi orang lain. Ketika ada orang yang kehilangan harapan, maka sebagai gereja kehadiran kita diharapkan dapat memulihkan dan membawa harapan baginya. Kehadiran orang yang berdampak positif tentu sangat diharapkan kedatangannya.

Seperti Maleakhi yang mengingatkan kedatangan Tuhan yang akan menghakimi setiap perbuatan orang Israel. Pada waktu itu orang Israel hidup dalam kekacauan. Mereka tidak memberikan persembahan dengan benar, korban yang diberikan bukanlah korban yang terbaik. Para pemimpin hidup tidak bertanggungjawab, terjadi penyalahgunaan ibadah, bahkan hal-hal yang jahat – dipandang sebagai hal yang berkenan di hadapan Tuhan. Dalam situasi inilah Maleakhi memberitakan kedatangan Tuhan yang akan menyucikan layaknya api tukang pemurni logam.

Kedatangan Tuhan itu diawali dengan kehadiran seorang utusan. Maleakhi 3:1a, ”Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku!”.Ada utusan yang akan mempersiapkan jalan. Siapakah utusan yang dimaksud? Pada bagian bawah perikop tersebut dalam Alkitab cetak ada tulisan dengan ukuran kecil “ay1: … Luk 1:76”. Ini artinya pesan yang sama terdapat dalam Lukas 1:76. Utusan yang dimaksud merujuk kepada Yohanes Pembaptis.

Lukas 1:68-79, merupakan nyanyian pujian atau mazmur (mizmor) yang dinyanyikan oleh Zakharia. Dalam nyanyian itu, Zakharia menyatakan tentang kedatangan Raja yang akan menyelamatkan. Yohanes-lah yang akan mempersiapkan jalan bagi kedatangan Sang Raja tersebut. Dengan demikian Yohanes Pembaptis lahir dengan mengemban sebuah misi yang diungkapkan dalam Lukas 3:1-6. Misi itu dilakukan dengan seruan, “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu,”.

Pada masa ketika Yohanes hadir, orang Yahudi hidup tanpa tuntunan nabi. Oleh sebab itu, orang Farisi berperan dalam hal menafsir, membentuk, mengawasi sistem dan aturan keagamaan yang menjadi pegangan serta tuntunan kehidupan bangsa itu. Orang Lewi (para imam) bertanggungjawab untuk mengurus Bait Allah. Keduanya, orang Farisi dan para imam dipercaya untuk mengelola sistem keagamaan dengan segala aturan yang sudah rinci sebagai pengganti tuntunan nabi.

Persoalan muncul ketika mereka yang dipercaya justru hidup jauh dari kebenaran dan memanipulasi seluruh aktivitas keagamaan demi kekuasaan dan keuntungan duniawi. Penindasan, pemerasan, eksploitasi terhadap Bait Allah dan haus kekuasaan. Hal ini yang membuat hidup beragama menjadi formalitas dan munafik. Itu sebabnya Yohanes menyebut mereka (orang Farisi dan ahli taurat, ketika mereka datang, sebagai keturunan ular beludak; berbahaya dan licik!).

Di tengah situasi itu, kehadiran Yohanes menjadi disruption (gangguan, kekacauan). Dia mengganggu dengan seruan bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis, di tengah kekacauan hidup keagamaan pada masa itu. Disrupsi adalah interupsi bagi situasi yang sedang berlangsung. Disrupsi adalah inovasi yang akan mengganti seluruh sistem lama dengan cara-cara baru. Maka seruan Yohanes merupakan disrupsi dalam mempersiapkan jalan bagi Tuhan, bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis. Bertobatlah berarti sikap penyesalan dan berbalik kepada kehendak Allah. Baptisan merupakan tanda dan materai bahwa kita adalah milik Allah.

Kita pun dipanggil untuk melakukan disrupsi di tengah kehidupan kita saat ini. Bukan disrupsi yang seenaknya sendiri, tetapi disrupsi seperti kehendak Allah dan demi kemuliaan-Nya. Disrupsi yang menyampaikan suara Ilahi dan diawali dengan bertobat dan memberi dirimu dibaptis (bukan dibaptis lagi bagi yang sudah dibaptis, melainkan sungguh-sungguh menyatakan hidup sebagai milik Allah). Jadilah suara yang berseru-seru menyampaikan suara Ilahi dalam keutuhan hidupmu. Kiranya Tuhan menolong dan memampukan kita.

DRS

 

Leave a comment