Beragama dengan Akal Sehat

Quote-10Feb2020

Yes 58:1-9, Mzm 112:1-10, 1 Kor 2:1-12, Mat 5:13-20

“Jika tidak memilih A, tidak masuk surga. Nanti tidak akan ada lagi yang menyembah-Mu jika kami kalah.” Kedua kalimat di atas sempat viral dalam konteks pemilu 2019 yang lalu. Dengan kekuatan media sosial, pernyataan ini dengan cepat menyebar dan menuai tanggapan dari berbagai pihak. Salah satu tanggapan berasal dari Ketua PBNU Robikin Emas. Ia mengatakan, “Lalu atas dasar apa kekhawatiran Tuhan tidak ada yang menyembah kalau capres-cawapres yang didukung kalah? Apa selain capres-cawapres yang didukung bukan menyembah Tuhan?”. Ia juga mengingatkan bahwa Tuhan yang disembah adalah Allah, bukan pilpres bahkan bukan agama itu sendiri. Tanggapan Robikin ini membangunkan kesadaran kita bahwa agama dengan mudah dapat disalahgunakan untuk kepentingan tertentu. Itu sebabnya kita tidak bisa sekedar menerima setiap pengajaran yang diberikan. Kita perlu tetap menggunakan akal sehat dalam beragama, supaya tidak mudah untuk dihasut dan diperdaya. Seperti pepatah arab yang mengatakan bahwa agama adalah akal. Artinya beragama membutuhkan akal agar manusia tidak terjatuh dalam kepercayaan buta yang bisa menyesatkan manusia. Oleh sebab itu, kita perlu melakukan evaluasi terhadap hidup keagamaan kita, menguji diri dengan pertolongan Roh Allah (hikmat Allah).

Ada 3 hal dalam kehidupan beragama yang perlu untuk kita evaluasi, yaitu:

1. “kamu adalah garam dunia, kamu adalah terang dunia”

Ketika Tuhan Yesus mengatakan kamu adalah garam dunia, Ia hendakvmenegaskan hakikat bahwa kita sudah menjadi garam dunia dan bukanvbaru akan menjadi garam dunia. Secara umum, garam memiliki 2 fungsi, yaitu: memberi rasa asin sehingga makanan menjadi enak dan mengawetkan daging. Oleh sebab itu, sebagai garam dunia orang percaya perlu memberi pengaruh positif bagi orang-orang disekitarnya. Demikian juga dengan frasa, ‘kamu adalah terang dunia’. Fungsi utama terang adalah membantu manusia melihat sehingga dapat beraktivitas dengan leluasa. Tuhan Yesus menghendaki agar setiap pengikut Nya memperlihatkan perbuatan baik, yang menunjukkan ketaatannya lewat perbuatan sehari-hari. Garam dan terang dunia adalah identitas yang perlu dinyatakan dalam hidup keagamaan kita dengan memberikan pengaruh dan dampak positif bagi sesama disekitar kita. Bagaimana dengan hidup yang kita jalani saat ini? sudahkah hidup ini memberi dampak yang positif bagi hidup sesama? Sudahkah kita menyaksikan Allah dalam kehidupan kita sehari-hari?

2. “Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman…”
Orang Yehuda pada zaman nabi Yesaya rajin beribadah, mendengarkan Firman dan berpuasa. Semuanya itu merupakan ketetapan Allah yangv arus dilakukan oleh Israel. Namun, puasa yang mereka lakukan tidak diindahkan oleh Allah. Mengapa? Sebab kesalehan mereka tidak disertai dengan melakukan keadilan, mengasihi sesama (kesalehan sosial). Padahal hidup keagamaan yang dikehendaki oleh Allah tidak tertuju hanya bagi diri sendiri, tetapi juga harus ditujukan kepada orang lain juga. Artinya, Allah menghendaki agar hidup keagamaan kita bergerak seperti salib,mengarah ke atas (kepada Allah), tetapi juga ke samping (pada sesama). Mari kita melakukan introspeksi, apakah kita telah melakukan ibadah yang berkenan dihadapan-Nya? Ibadah yang tidak hanya mengarah kepada- Nya, tetapi juga dapat dirasakan dan berdampak dalam hidup sesama.

3. “supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah.”
Dalam surat kepada jemaat di Roma, Rasul Paulus menyatakan, “iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh Firman Kristus” (Rm 10:17). Perkataan ini mengandaikan ada orang yang memberitakan Firman Tuhan dan mengajak orang percaya untuk terlibat di dalamnya. Pada bagian surat kepada jemaat di Korintus, Rasul Paulus justru mengatakan supaya iman jangan bergantung pada hikmat manusia (si pemberitanya). Jika kedua kalimat ini dihubungkan, Rasul Paulus sebenarnya hendak mengingatkan agar orang percaya perlu bersikap kritis agar iman yang muncul atas pemberiaan Firman Allah dapat bertumbuh dan berbuah dengan tepat. Orang percaya perlu menguji semua pengajaran yang disampaikan dengan bergantung pada Roh Allah. Itu sebabnya kita pun perlu untuk terus belajar Firman Tuhan agar dimampukan untuk menguji setiap pengajaran yang ada di sekitar kita.

Tuhan telah memberikan kita akal untuk berpikir dengan baik, dan mintalah agar Tuhan juga memberi kita hikmat untuk menguji setiap pengajaran yang disampaikan serta kerendahan hati untuk mengubah apa yang perlu diubah. Tuhan kiranya memampukan kita untuk bertumbuh dan berbuah sesuai kehendak-Nya.

DRS

Leave a comment