Belas Kasihan, Bukan Mengabaikan

news-thumb1280

Lukas 10: 25-37

Saat ini kita hidup di tengah zaman berteknologi canggih. Ada berbagai macam perangkat teknologi yang memudahkan kita dalam bekerja sehari-hari. Juga, ada berbagai media teknologi yang memudahkan kita mendapatkan berbagai bentuk hiburan dan kesenangan; mulai dari online game sampai home theatre yang menakjubkan. Namun, sayangnya, penggunaan teknologi yang tidak terkendali telah menyebabkan kemunduran dalam banyak hal. Salah satunya adalah kemunduran moralitas, manusia menjadi semakin individualis. Orang-orang semakin sibuk dengan gadged dan media sosialnya sendiri, hilang peduli pada orang di sekitarnya. Tidak jarang kita melihat orang hanya membuat dokumentasi ketika melihat orang lain sedang dalam bahaya. Korban kecelakaan hanya difoto, divideokan dan dipublikasikan di media sosial. Mereka tidak membantu. Hati nurani dan belas kasihan banyak orang telah habis tergerus tak tersisa.

Perumpamaan Tuhan Yesus tentang “orang Samaria yang murah hati” dalam bacaan di atas adalah kritikan keras terhadap orang-orang yang hidup mementingkan ritual. Saat itu, kritikan tersebut ditujukan kepada para imam dan ahli Taurat yang menjunjung tinggi ketaatan kepada hukum dan tradisi ritual. Mereka menganggap ketaatan kepada aturan, hukum dan tradisi adalah wujud kasih terdalam kepada Allah. Memenuhi semua perintah hukum Taurat pasti akan diganjar dengan berkat dan keselamatan dari Allah.

Padahal, ibadah ritual bukanlah satu-satunya ekspresi kasih kepada Allah. Peribahadan, doa, puji-pujian dan ketaatan kepada hukum memang merupakan bukti-bukti keyakinan kepada Tuhan. Tetapi, kasih kepada Tuhan tidak boleh dibatasi dalam kegiatan di ruang ibadah. Kasih kepada Allah harus nampak juga dalam relasi dengan sesama. Dalam teks di atas, Tuhan Yesus membenarkan bahwa inti seluruh kitab para nabi ialah “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hati… dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (27). Artinya, hidup beriman itu tidak hanya menyangkut urusan dengan Tuhan (vertikal), tetapi juga urusan kita dengan sesama (horizontal).

Keadaan orang yang dirampok dalam perumpumaan di atas sungguh malang. Ia dipukuli hingga setengah mati. Ia benar-benar tidak berdaya. Ia tidak bisa menolong dirinya sendiri lagi. Ia terkapar dan membutuhkan belas kasihan orang lain. Kebetulan, seorang imam lewat dari jalan itu. Mungkin saja dia hendak beribadah ke Yerusalem, atau pulang ke Yerikho. Sayangnya, ketika ia melihat korban perampokan itu, ia berlalu saja dari seberang jalan (ay 31). Tidak lama kemudian, seorang Lewi juga melintas. Sayangnya lagi, ia juga tidak berbuat apa-apa (ay 32). Ironis sekali.

Imam adalah jabatan terhormat. Mereka disegani oleh karena relasi mereka dengan Allah, pengenalan mereka yang mendalam akan Allah dan kemampuan mereka menghidupi ajaran-ajaran Allah. Demikian juga Lewi, mereka adalah keluarga para imam dan merupakan pengelola Bait Allah. Kehadiran dan sikap mereka ini seharusnya menggambarkan hamba-hamba Allah yang penuh kasih, mengayomi umat dan membela orang-orang yang tertindas. Akan tetapi, hal itu tidak terlihat sama sekali dalam perumpamaan Tuhan Yesus tersebut.

Belas kasihan tulus justru muncul dari seorang Samaria, yang dianggap sebagai kaum berdosa dan tercela. Orang Samaria itu segera membalut luka si korban, meminyakinya, menaikkannya ke atas keledainya, membawanya ke penginapan, merawat luka-lukanya dan membiayai semua kebutuhannya selama di penginapan (ay 34). Kasih sejati telah menggerakkan orang Samaria itu untuk mengasihi orang lain seperti dirinya sendiri. Ia mungkin membayangkan, jika hal yang sama terjadi pada dirinya, ia juga membutuhkan pertolongan orang lain. Ia berusaha menempatkan dirinya pada situasi orang lain, sehingga ia rela menolong tanpa berpikir untung ruginya.

Tidak peduli apa jabatan, pekerjaan atau suku kita, setiap kita butuh belas kasihan Allah. Kita ada seperti saat ini karena belas kasihan Allah melalui banyak orang baik yang menjaga, melindungi dan memelihara diri kita. Ketika kita sakit, susah dan tidak berdaya, bukankah orang lain telah menunjukkan belas kasihan Tuhan kepada kita? Oleh karena itu, janganlah lepaskan belas kasihan itu dari hati kita. Hidupilah dan nyatakanlah kepada orang-orang lain. Belajarlah bermurahhati ketika menemukan orang lain sedang susah, sekarat, menderita dan tidak berdaya. Jika kita ada di situasi mereka, bukankah kita memerlukan pertolongan yang sama? Oleh karena itu, lakukanlah sesuatu, bahkan tanpa pamrih, tanpa pandang bulu dan tanpa merasa rugi. Tuhan memberkati!

MM

Leave a comment