Belarasa dengan Ucapan Syukur

news-thumb1280

(Yesaya 55:1-5, Mazmur 145:8-9, 14-21, Roma 9:1-5, Matius 14:13-21)

Belarasa adalah tindakan empatik (peduli dan penuh kasih) yang bersedia memberikan diri dengan segenap hati. Di dalam Perjanjian Baru, kata belarasa mengacu kepada kata “belas kasihan” (Yunani: splagchnizomai), yang secara sederhana berarti sangat terharu, sangat merasa kasihan, sangat ingin menghibur orang lain. Jadi, orang yang memiliki belarasa atau belas kasihan akan selalu menunjukkan kepedulian yang dilandasi rasa terharu dan rasa kasih yang mendalam. Ia juga tergerak mewujudkannya dengan memberikan pertolongan nyata dan pemulihan bagi orang lain.

Belarasa seperti ini nampak jelas dalam narasi Matius 14:13-21. Tidak diragukan lagi bahwa Tuhan Yesus amat jeli melihat situasi hidup manusia. Ia tahu kebutuhan-kebutuhan terdalam yang harus ditolong dan dipulihkan. Ia peduli. Ia berbelas-kasihan. Akan tetapi, belas kasihan Kristus ini bukan tanpa sebab. Setidaknya, belas kasihan Tuhan Yesus digerakkan oleh dua hal:

1. Besarnya jumlah orang yang mengikuti Tuhan Yesus. Tuhan Yesus terkejut “melihat orang banyak yang besar jumlahnya” (ayat 14). Menurut ayat 21, jumlah mereka mencapai 5.000 orang, belum termasuk perempuan dan anak-anak. Angkanya mungkin mencapai 6.000 orang atau lebih. Sangat fantastis. Herannya lagi, di antaranya terdapat banyak orang sakit. Melihat mereka, Tuhan Yesus tergerak belas kasihan dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.

2. Besarnya semangat orang banyak. Ribuan orang tersebut menanti hingga senja menjelang. Mereka mempertaruhkan banyak hal (seperti waktu, tenaga, pekerjaan, perbekalan) untuk mengikuti Tuhan Yesus. Menanti pertolongan Kristus lebih utama daripada memikirkan soal makanan dan minuman. Mereka rela habis-habisan asal tetap di dekat Tuhan Yesus. Semangat ini membuat Tuhan Yesus terharu dan berpikir melakukan sesuatu untuk menolong mereka.

Dalam hidup sehari-hari, makin sulit menemukan belas kasihan yang tulus dan kudus. Ketika berjumpa orang susah dan menderita, tidak sedikit orang berpura-pura sama susahnya (sehingga merasa tidak perlu memberi bantuan kepada orang lain). Ada juga yang cuek dan masa bodoh dengan kenyataan di depan mata. Buruknya lagi, orang malah menyalahkan orang- orang susah dan menderita karena dianggap gagal menjaga dan memajukan hidupnya sendiri. Gerak hati mereka bersifat sentripetal, yakni berpusat kepada diri sendiri dan kepentingan-kepentingannya yang sempit. Sedikit banyak, para murid memperlihatkan sikap seperti ini. Ketika melihat orang banyak bertahan sampai senja, mereka menjadi sangat panik. Para murid terganggu dengan keberadaan orang banyak. Solusi yang mereka tawarkan tidak bertanggung jawab.

Para murid meminta agar Tuhan Yesus menyuruh semua orang pulang ke tempatnya masing-masing. Mereka tidak mau memikirkan dan terlibat lebih jauh. Mereka mencari solusi yang mudah, yakni menyuruh khalayak pergi.

Fakta lain, ada juga bentuk empati yang bersifat sepihak; ada subjek dan objek. Pihak subjek berperan sebagai pemberi pertolongan; sementara pihak objek berperan menerima bantuan secara pasif. Pola ini kurang mendidik. Alasannya, pihak subjek tidak mendorong kemandirian orang yang dibantu. Juga, pihak objek cenderung pasif dan bergantung pada belas kasihan orang lain.

Belas kasihan Kristus, meskipun mudah, namun bukanlah sesuatu yang murahan. Belas kasihan itu disentuh oleh keteguhan hati orang banyak. Orang banyak aktif mencari dan mengejar Tuhan Yesus. Mereka berusaha dengan giat. Bahkan, mereka rela diarahkan, termasuk duduk berkelompok di atas rumput (Mat 6:40). Sikap iman yang aktif ini, yang berjumpa dengan belas kasihan Tuhan, akhirnya melahirkan keajaiban (mukjizat) yang memulihkan. Para murid sendiri pun akhirnya belajar menundukkan diri. Mereka rela menyerahkan sisa 5 roti dan 2 ikan untuk kepentingan bersama. Ketimbang mengeluh, para murid belajar percaya kepada kehendak dan rencana Tuhan Yesus. Akhirnya, mereka juga menyaksikan kuasa dan kemurahan hati Tuhan Yesus.

Saudara, bagaimanakah dengan kita? Sejauh manakah kita telah berbelasa kepada orang lain, khususnya kepada orang miskin dan menderita akibat ketidakadilan? Sebagai orang-orang yang telah dikasihi oleh Tuhan, hendaknya kita semakin hidup di dalam belas kasihan. Hendaknya kita semakin peka atas orang di sekitar kita. Hendaknya kita tidak hanya merasa kasihan, tetapi bersedia memberi yang ada pada kita sebagai buah-buah pertolongan. Setiap makanan yang kita beri kepada orang lapar, lawatan kepada orang sakit, kunjungan bagi yang terpenjara, pakaian bagi yang telanjang, dan kebaikan-kebaikan tulus kepada orang- orang kecil, sesungguhnya tertuju kepada Tuhan. Oleh karena itu, mari terus melakukannya dengan giat dan penuh ungkapan syukur. Tuhan memberkati. Amin.

MM

Pertanyaan Sharing
1. Apakah ketaatan dan kebaikan Saudara selama ini sudah berlandaskan rasa syukur yang tulus kepada Allah? Berikanlah alasan Saudara!
2. Hambatan-hambatan apa yang biasa Saudara alami ketika hendak menyatakan belarasa atau belas kasihan kepada orang lain?
3. Pikirkan satu hal atau seseorang yang ingin Saudara jadikan sebagai proyek ketaatan dalam rangka menyatakan belas kasihan secara nyata. Buatlah rencana khusus bagaimana Saudara akan mewujudkannya!

Leave a comment