Bekerjalah Untuk Makanan Yang Tidak Binasa

news-thumb1280

(Yohanes 6:24-35)

Pernahkah Saudara merenungkan untuk apa sesungguhnya Saudara bekerja? Pada kenyataannya, ada banyak alasan yang mendorong seseorang untuk bekerja. Ada yang bekerja karena secara umur sudah di usia kerja (malu kalau sudah dewasa tetapi tidak bekerja). Ada yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari (takut kelaparan kalau tidak bekerja). Ada yang bekerja supaya memiliki uang yang banyak, menjadi kaya raya dan memiliki aset yang berlimpah-limpah. Ada yang bekerja karena merindukan posisi atau jabatan pada pekerjaan tertentu. Ada yang bekerja untuk mencurahkan hobi atau kegemaran yang dimiliki. Ada juga yang bekerja karena dorongan penghayatan iman atau panggilan hidupnya di dalam Tuhan (bekerja sebagai bagian dari ibadah kepada Tuhan).

Motivasi seseorang untuk bekerja tentu saja akan berdampak pada sikap dan perilaku dirinya saat bekerja. Motivasi yang dangkal atau salah akan berujung pada perilaku kerja yang juga salah. Tidak sedikit orang memandang bekerja sebagai kewajiban dan rutinitas belaka. Pergi ke kantor, pabrik atau toko setiap hari hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sebagian lain bekerja dengan marah-marah, mengeluh, menggerutu, mengomel atau jengkel karena menemui cara, sistem atau rekan kerja yang tidak sesuai keinginannya. Lainnya lagi bekerja dengan berleha-leha, asal-asalan dan setengah hati, yang penting tetap mendapatkan uang setiap kali saatnya gajian.

Memang, seorang pekerja layak mendapatkan upahnya. Adalah kejahatan jika seorang pekerja tidak mendapat upah, atau jika mendapat upah kerja secara tidak wajar. Namun demikian, bekerja untuk mengejar materi atau keinginan duniawi semata adalah juga kekeliruan. Bekerja dengan orientasi kebutuhan jasmani (sandang, pangan, papan) hanya akan berujung keletihan lahir dan batin. Mengapa? Pada satu sisi, semua harta yang kita peroleh dari bekerja tidak ada yang abadi. Semuanya sementara. Dalam sekejap semua harta itu bisa tak bersisa. Itu sebabnya, jika kebahagiaan kita semata didasarkan pada harta dan materi, kita tidak akan pernah benar-benar merasa bahagia. Pada sisi lain, rasa puas terhadap materi tidak pernah ada ukurannya. Orang yang materialistis tidak akan pernah puas dengan upah yang diperolehnya saat ini. Ia selalu merasa kekurangan. Ia selalu ingin lebih. Bahkan, ia iri hati atas pencapaian orang lain. Akibatnya, ia mudah terjerumus pada kejahatan hanya demi mengejar nafsu kedagingannya.

Itulah sebabnya, pada hari ini, firman Tuhan mengajak kita untuk bekerja bukan hanya untuk makanan dan harta yang dapat binasa, melainkan untuk makanan dan harta yang tidak dapat binasa. Artinya, kita harus bekerja dan mencari manfaat hidup yang menghasilkan kebahagiaan, keselamatan dan kehidupan yang kekal. Kita harus berpikir agar waktu yang kita habiskan dan usaha yang kita lakukan semakin mengarahkan kita pada Sumber Kebahagiaan dan Kehidupan yang sejati. Untuk bisa hidup selamat dan bahagia, sesungguhnya manusia memerlukan lebih daripada sekadar makanan dan uang. Manusia memerlukan Tuhan dan kebenaran-Nya, yang mampu menjamin kebahagiaan dan keselamatan yang kekal. Oleh karena itu, manusia harus lebih giat berusaha untuk membangun kepercayaannya kepada Tuhan, mempererat relasinya dengan Tuhan dan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Bekerjalah untuk sesuatu yang mendatangkan nilai-nilai kehidupan, kebenaran dan dampak manfaat yang kekal. Bekerjalah untuk menghasilkan kasih, kebenaran, keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan. Pekerjaan-pekerjaan seperti inilah yang dikehendaki Tuhan atas setiap anak-anak-Nya, sampai pada hidup yang kekal.

                                                                                                            MM

Leave a comment