BANYAK JALAN MENUJU ROMA? (UNIVERSALISME)

news-thumb1280

Kis 10:34-36

Banyak jalan menuju Roma adalah peribahasa yang sudah lama kita dengar. Peribahasa tersebut berarti banyak cara, tetapi satu tujuan. Ungkapan ini sangat cocok bagi konteks zaman sekarang dimana banyak sekali produk-produk yang dijual untuk mencapai hasil yang sama, contohnya produk pasta gigi, maupun produk-produk kecantikan; semuanya menawarkan hasil yang sama dengan variasi yang berbeda. Ternyata, ungkapan ini juga berlaku bagi suatu paham, yakni universalisme.

Universalisme adalah suatu paham yang memandang bahwa semua umat manusia akan diselamatkan oleh Allah, tidak memandang ras, suku, agama, warna kulit, bahkan sampai kepada tindakan yang dilakukan semasa hidupnya. Kasih Allah menjadi penekanannya. Universalisme berasal dari kata universum, yang berarti alam semesta. Sehingga, dapat diartikan bahwa paham universalisme menganggap keselamatan diberikan bagi semua orang tanpa memandang suku, warna kulit, dan sebagainya. Pertanyaannya, apakah hal ini benar secara teologis?

Ketika kita mencermati Kis pasal ke-10, kita melihat narasi Kornelius dan Petrus. Kornelius adalah seorang perwira pasukan Italia, seorang non-Yahudi yang sering memberikan sedekah kepada orang Yahudi dan rajin berdoa kepada Allah. Dalam suatu penglihatan, Allah menyuruh Kornelius untuk menemui Petrus. Di lain pihak, Petrus, seorang rasul yang sangat patuh terhadap peraturan kaum Yahudi, khususnya mengenai pergaulan dengan non-Yahudi, diberikan pula penglihatan mengenai hewan-hewan najis yang turun dari langit sewaktu ia lapar. Oleh Allah, Petrus diperingatkan untuk tidak menyatakan najis sesuatu yang tidak Allah nyatakan najis. Penglihatan tersebut memimpin Petrus kepada pemahaman bahwa Allah menginginkan dirinya untuk menginjili Kornelius serta membaptisnya beserta keluarganya. Maka, Petrus dan Kornelius bertemu dan kemudian Petrus melakukan seperti yang dikehendaki Allah. Di Ayat 34-36 menegaskan pesan Allah kepada Petrus, yakni bahwa Allah tidak membedakan orang, dan bahwa Ia adalah Allah bagi semua bangsa.

Kisah Kornelius dan Petrus kelihatan seperti sebuah pemahaman universalisme, yakni bahwa Allah mengasihi semua orang, dan keselamatan diperuntukkan bagi semua orang. Namun, jika kita melihat lebih dalam, sesungguhnya ada poin-poin yang dapat kita cermati. Pertama, disebutkan bahwa Kornelius beserta keluarga adalah orang-orang yang takut akan Allah. Fakta inilah yang membuat Allah kemudian berkenan untuk melawat Kornelius dan keluarganya. Kedua, bahwa Petrus adalah seorang Yahudi yang taat. Ketaatannya ini kemudian membuatnya ragu untuk terbuka kepada orang yang bukan Yahudi. Peristiwa ini dipakai Allah untuk menyatakan kasih-Nya yang terbuka luas untuk semua umat manusia, sekaligus mengingatkan Petrus sebagai wakil dari para rasul untuk mengabarkan Injil kepada orang-orang non-Yahudi seperti Kornelius. Kasih Allah melampaui perbedaan ras, suku, warna kulit, dan kewarganegaraan. Tetapi bagaimana dengan soal keselamatan?

Dalam perikop, disebutkan bahwa pada akhir kisah, Petrus membaptis Kornelius beserta keluarganya setelah menerima Roh Kudus dari Allah sendiri. Hal itu terjadi setelah Kornelius beserta keluarganya mendengarkan pemberitaan Injil oleh Petrus. Peristiwa ini menunjukkan bahwa Allah membuat tanda dengan orang-orang yang dikenan-Nya untuk mendapatkan keselamatan setelah mereka menjalankan kehendak-Nya dan menerima firman- Nya yang diberitakan kepada mereka. Seluruh proses ini merupakan suatu hal yang penting sebagai tanda seeorang betul-betul merespon kasih Allah itu. Inilah yang menegaskan bahwa Allah tidak menghendaki umat-Nya untuk menjadi eksklusif dan membatasi peruntukkan keselamatan kepada satu golongan tertentu, tetapi kemudian Allah juga tetap memiliki suatu ketentuan akan siapa yang patut untuk menerima keselamatan, yakni orang-orang yang betul- betul menerima kabar keselamatan dan melakukan yang terbaik dalam kehidupan sebagai wujud bakti kepada Allah. Sehingga, tentu saja orang-orang yang tidak menerima pemberitaan Injil-Nya dan yang tidak melakukan kehendak-Nya tidak mendapatkan bagian dari keselamatan tersebut.

Jemaat yang terkasih, dalam bulan Pekabaran Injil ini kita diingatkan mengenai keselamatan yang telah kita terima dalam kematian dan kebangkitan Yesus Kristus Tuhan kita. Inilah yang kita imani, bahwa satu-satunya jalan keselamatan ada di dalam Yesus Kristus. Keselamatan yang harus dikerjakan dalam takut dan gentar (Filipi 2:12), yaitu dengan cara hidup sebagaimana yang Allah kehendaki. Bukan hanya itu kita juga dipanggil untuk memberitakan perbuatan besar yang telah Allah lakukan bagi semua orang (1 Ptr 2:9). Pemberitaan itu tidak dilakukan dalam kesombongan sebagai orang yang telah menerima anugerah keselamatan, melainkan dalam kerendahan hati dan penuh syukur, sebab keselamatan diberikan sebagai anugerah. Anugerah yang berarti bukan merupakan hak kita dan bukan merupakan kewajiban Allah untuk memberikannya, melainkan karena begitu besar kasih Allah kepada kita.

MTP

Leave a comment