Arti Seorang Murid

news-thumb1280

Roma 8:29-30

Bulan September merupakan bulan Misi GKI Perniagaan. Namun, bukan berarti sepanjang tahun di luar bulan September kita tidak melakukan misi. Misi adalah hakikat gereja, karena itu misi selalu melekat dalam diri gereja dan tanpa misi gereja kehilangan identitasnya. Bulan misi ini diadakan untuk mengingatkan dan memperlengkapi kita mengenai cara dan bagaimana melakukan misi dalam seluruh aspek hidup. Oleh sebab itu, tema kebaktian selama bulan misi tidak diambil dari buku Dian Penuntun yang didasarkan pada daftar bacaan (leksionari), melainkan menggunakan tema khusus. Tema bulan misi kali ini adalah tentang pemuridan yang diawali pada minggu ini dengan pembahasan mengenai arti seorang murid.

Semasa Yesus hidup, para pengikut-Nya jarang disebut orang Kristen. Seperti kita ketahui sebutan Kristen baru muncul pertama kali di Antiokhia (Kisah Para Rasul 11:26). Lalu apa sebutan bagi para pengikut Yesus? Mereka biasa disebut sebagai murid Yesus. Kata murid dalam bahasa Ibrani adalah Limmud atau Mathetes dalam bahasa Yunani. Melalui kata murid ada 2 hal yang ditekankan, yaitu: pertama, relasi antara guru dengan murid (pupil) yang menekankan pentingnya ikatan atau persekutuan antara murid dan gurunya yang terus berjalan tanpa ada batas waktu. Kedua, proses yang dijalani untuk menjadi seorang murid (disciple). Dalam konsep belajar orang Yunani, seorang murid akan mengalami belajar secara kognitif (pengetahuan), afektif (hati nurani) dan psikomotorik (penerapan dari pengembangan pemahaman moral manusia). Oleh sebab itu, seorang murid diharapkan dapat memiliki relasi yang intim dengan sang guru dan bersedia untuk menjalani proses belajar yang terus menerus hingga mengalami pembentukan, perubahan dan dapat membentuk orang lain lagi (memuridkan).

Dalam Kekristenan kata guru merujuk pada Guru Tuhan Yesus. Dialah sang guru yang tidak hanya mengajar dengan teknik yang menarik (perumpamaan, pertanyaan, dsb) tetapi juga menjadi teladan yang hidup bagi setiap murid-Nya. Sebagai seorang murid Kristus, maka diharapkan ada kesediaan untuk belajar dari perkataan Tuhan Yesus, cara Yesus melayani, meneladani hidup dan karakter Yesus dan memuridkan (mengajar murid yang lain) demi Kristus.

Hal ini sejalan dengan surat yang ditulis oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Roma, “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” (Roma 8:29). Rasul Paulus mengingatkan bahwa Tuhan telah memilih sejak semula untuk menyelamatkan manusia untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya. Ketika berbicara tentng menjadi serupa, maka saya teringat dengan Kejadian 1:27, “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.”. Dari sini kita melihat bahwa orang pilihan Allah ,yang juga berarti menjadi murid-Nya, dipanggil menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, maka kita bicara tentang pemulihan manusia yang semula seperti ketika diciptakan. Dengan kata lain, menjadi seorang murid Kristus berarti menjalani proses pemulihan manusia yang semula. Menjadi serupa dengan gambaran-Nya, berarti juga kesediaan untuk menyalibkan manusia lama, menyangkal diri dan mati bagi dosa. Proses ini akan terus berlangsung selama kita hidup. Itu sebabnya seorang murid Kristus harus memiliki relasi yang intim dengan-Nya (ketaatan), dan kesediaan untuk terus belajar (membuka ruang dikritik dan ditegur, tidak ada hak untuk sombong), menyatakan Kristus dalam keutuhan hidupnya (holistik, bukan cuma di gereja) serta memberi ruang untuk menemukan dan mengajar murid lain demi Kristus (Matius 28:19).

Selamat menjadi murid yang menyatakan kemiripan dengan Sang Guru Agung dalam seluruh aspek hidup (ketika melihat, berbicara, mendengar, bekerja, mengambil keputusan, melangkah seperti Kristus). Semoga kemiripan itu bukan hanya perasaan kita semata (merasa mirip, padahal tidak), tetapi sungguh mengimitasikan Kristus, Sang Guru, yang semakin lama semakin serupa dengan-Nya.

                                                                                                DRS

Leave a comment