Arahkanlah Hatimu Kepada Tuhan

WhatsApp Image 2020-07-26 at 15.14.18

(Matius 14:13-21)

Setiap Minggu di GKI, saat ibadah gerejawi akan berakhir, pengkhotbah selalu akan berkata: “Arahkanlah hatimu kepada Tuhan”. Umat lalu merespon dengan jawaban: “Kami mengarahkan hati kami kepada Tuhan”. Esensi dialog ini adalah pentingnya mengarahkan hati kepada Tuhan dalam seluruh perjalanan hidup kita. Selama di gereja, umat berhasil mengarahkan hati kepada Tuhan  untuk memuji Tuhan, berdoa kepada Tuhan, mendengarkan firman Tuhan, memberi persembahan syukur kepada Tuhan dan mau diutus Tuhan. Inilah dimensi perjumpaan umat dengan Tuhan. Akan tetapi, perjumpaan dengan Tuhan tidak boleh berhenti di gereja atau dalam acara gereja. Perjumpaan dengan Tuhan harus berlanjut dalam hidup berkeluarga, saat bekerja atau ketika melakukan tugas kesaksian di masyarakat. Untuk itu, umat perlu senantiasa mengarahkan hati kepada Tuhan.

Pengarahan hati kepada Tuhan ini begitu penting. Di tengah banyaknya kesibukan dan pergumulan, godaan-godaan terselip di sana sini. Jika lengah, kita bisa memalingkan wajah dari Tuhan. Misalnya, kita bisa terjebak mengejar kekayaan dan kesenangan dunia sampai menghalalkan segala cara dan melupakan persekutuan dengan Tuhan. Atau, kita mengandalkan kekuatan dirinya sendiri, hikmat dan cara kerja sendiri. Atau, kita semata mengandalkan teman, saudara, kenalan atau konseksi ketimbang mengandalkan Tuhan. Bahkan, kita bisa terjerat untuk mengandalkan hal-hal gaib seperti ramalan, prediksi-prediksi, jimat, atau kekuatan roh-roh dunia ini ketimbang kuasa Tuhan.

Kisah “lima roti dan dua ikan” sangat terkenal. Suatu ketika, Tuhan Yesus dan para murid diikuti banyak orang. Jumlahnya fantastis: 5000 orang. Belum termasuk anak-anak dan perempuan. Mereka berasal dari berbagai kota dan desa. Tuhan Yesus menaruh belas kasihan kepada mereka. Mereka seperti anak ayam kehilangan induknya. Ia pun mengajar mereka dan menyembuhkan orang-orang sakit. Menjelang malam, para murid meminta agar Tuhan Yesus untuk menyuruh mereka pulang. Biarlah masing-masing mengurus makanannya sendiri. Namun, Tuhan Yesus melihat orang banyak itu terlalu lemah untuk pulang. Mereka mungkin akan pingsan di jalan. Itu sebabnya, Tuhan Yesus berkata: “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan” (ay 16).

Mendengar perintah Tuhan Yesus itu, para murid merasa persoalan bertambah rumit. Pasalnya, mereka hanya memiliki 5 roti dan 2 ikan. Ini adalah bekal untuk 5 orang, maksimal 10 orang. Artinya, bekal itu hanya untuk mereka sendiri saja. Jadi mustahil memberi makan ratusan atau ribuan orang, apalagi 5000 orang lebih. Sampai di sini, fokus para murid hanya kepada jumlah orang yang besar, roti dan ikan yang sedikit, dan diri mereka sendiri yang tidak berdaya berbuat apa-apa. Sosok Yesus bagai Juruselamat dan Tuhan luput dari perhatian para murid. Mereka tidak sadar bahwa Tuhan bersama mereka dan kuasa Tuhan bekerja atas mereka. Fokus mereka hanya pada manusia dan materi.

Perintah Tuhan Yesus adalah memberi orang banyak makan. Hanya itu. Bagaimana caranya? Di sinilah dibutuhkan kepercayaan dan kepatuhan penuh untuk mengarahkan hati kepada Tuhan. Di balik perintah itu sesungguhnya tersirat harapan agar para murid mengandalkan pertolongan Tuhan. Pertolongan itu bisa berupa mukjizat yang dilakukan Tuhan Yesus sendiri. Atau, mukjizat itu dilakukan oleh para murid atas nama Tuhan, sebab kuasa Tuhan dapat bekerja melalui mereka. Mukjizat itu bisa berupa menggandakan apa yang sudah ada, atau membuat sesuatu dari yang belum ada. Ini memang mustahil bagi manusia, tetapi mungkin ketika Tuhan campur tangan. Asalkan manusia mau percaya dan terus mengandalkan Tuhan, pergumulan apapun pasti bisa dihadapi dan dilalui.

Saudara, dalam urusan makan dan minum saja orang bisa kehilangan fokus kepada Tuhan. Padahal, urusan sehari-hari kita begitu banyak: tumpukan pekerjaan, tekanan usaha, pendidikan anak, relasi suami-isteri, mengurus rumah, relasi pertemanan, hidup bertetangga, pelayanan gerejawi, sakit-penyakit dan banyak hal lainnya. Di sana sini, si Iblis membuat jebakan untuk melakukan kecurangan, penipuan, bersikap masa bodoh, mengabaikan relasi, melalaikan tugas, mementingkan diri sendiri dan mengejar perkara duniawi semata. Jika hilang arah kepada Tuhan, kita sungguh dibuat iblis menjadi “anak ayam yang kehilangan induk”, luntang-lantung, tanpa perlindungan dan menjadi sasaran empuk kehancuran.

Pengkhotbah Thomas Brooks pernah berkata, “Hati yang dipenuhi anugerah akan memandang menembus gelapnya awan, lalu melihat Allah sedang tersenyum kepadanya”. Saudara, milikilah hati yang dipenuhi anugerah. Percayalah bahwa hidup kita selalu ada di hati Allah. Dia tidak mengabaikan kita. Dia selalu ada bersama kita dan untuk kita. Oleh karena itu, seperti Allah mengarahkan hati-Nya kepada kita, marilah juga mengarahkan hati kita kepada Allah. Jangan mudah berpaling dari-Nya. Sebaliknya, andalkan dan libatkan Dia senantiasa. Semakin besar perjuangan, semakin kuatlah andalkan Tuhan. Terus mohon campur tangan Tuhan, sebab semua hal mungkin bagi Dia. Apapun yang kita hadapi bersama Tuhan, akan kita lewati dan akhiri dengan baik dan bermakna.

Tuhan memberkati! Amin.

MM

Leave a comment