Anugerah Allah yang Memberi Kehidupan

news-thumb1280

(Bil 21:4-9, Yoh 3:14-21 &Ef 2:1-10)

Pernahkah saudara memperhatikan logo Apotek atau lambang farmasi, yaitu ular yang melilit mangkuk? Ternyata logo itu berasal dari mitologi Yunani mengenai dewi Hygeia. Dewi Hygeia merupakan dewi kesehatan dan pemilik dari mangkuk yang dililit ular. Menurut kepercayaan Yunani kuno, ular yang melilit mangkuk itu menggambarkan kesembuhan dan kebijaksanaan. Itu sebabnya ular yang melilit mangkuk menjadi lambang dunia pengobatan saat ini.

Hal yang menarik dalam Bilangan 21:4-9 mencatat bahwa Allah memerintahkan Musa untuk membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang. Pada waktu itu bangsa Israel bersungut-sungut melawan Musa dan Allah ketika melintasi daerah Edom yang kering dan tandus. Mereka katakan, “”Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini? Sebab di sini tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini kami telah muak.” (Bil 21:5). Mereka menyesal telah dibebaskan dari tanah Mesir dan bersungut-sungut kepada Allah dan Musa. Bagaimana respon Tuhan terhadap perlawanan dari bangsa Israel? Di ayat 7 dikatakan, “Lalu TUHAN menyuruh ular-ular tedung ke antara bangsa itu, yang memagut mereka, sehingga banyak dari orang Israel yang mati.”. Pemberontakan bangsa Israel mengakibatkan kematian bagi sebagian bangsanya. Di tengah situasi itu, mereka yang masih hidup menyadari dosanya dan memohon kepada Musa untuk berdoa agar ular itu dijauhkan oleh Tuhan. Tuhan merespon permohonan itu dan memerintahkan kepada Musa untuk membuat patung ular tembaga. Siapapun orang yang dipagut ular, jika mereka memandang kepada ulang tembaga itu, maka ia akan tetap hidup.

Kedua kisah di atas sama-sama memakai ular sebagai simbol. Sekalipun demikian ada perbedaan yang mendalam di antara keduanya. Dalam kepercayaan Yunani, ular yang melilit mangkuk menjadi sumber kesembuhan, sebaliknya dalam Bilangan yang ditampilkan adalah iman kepada Allah sebagai sumber kesembuhan. Ular tembaga hanyalah media yang dipakai Allah untuk menyelamatkan umat Israel yang dipagut ular. Itu sebabnya patung ular itu dihancurkan ketika mulai diberhalakan (2 Raj. 18:4).

Di sini kita melihat bahwa Allah mampu mengubah ular sebagai simbol kematian yang menakutkan menjadi simbol yang menghidupkan. Hukuman dan murka Allah hadir bersama dengan anugerah dan kasih karunia Alalh dalam satu peristiwa. Hukuman dosa (yaitu maut) dan keselamatan dinyatakan secara bersamaan di padang gurun. Bukankah hal yang sama juga dilakukan oleh Allah dalam salib Kristus. Upah dosa adalah kematian dan salib menjadi simbol kematian, tetapi di dalam Allah salib yang menakutkan itu justru menjadi simbol keselamatan bagi orang yang percaya kepada Dia yang ditinggikan di atas kayu salib.

Dalam Perjanjian Lama, mereka yang memandang kepada ular yang ditinggikan itu disembuhkan dari racun dan diselamatkan dari kematian. Dalam Perjanjian Baru, mereka yang memandang (percaya) kepada Dia yang disalibkan, memperoleh pembenaran dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Seperti yang dikatakan oleh Sang Anak Manusia, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Allah menghendaki agar manusia tidak binasa dan memperoleh hidup yang kekal. Hal ini didapatkan melalui percaya kepada Dia (Yesus) yang ditinggikan di atas kayu salib. Daripadanya kita, umat manusia, memperoleh keselamatan dan hidup.

Paulus menjelaskan tentang anugerah Allah yang memberi kehidupan di dalam suratnya kepada jemaat di Efesus. Ia memaparkan di ayat 4 & 5, “Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita–oleh kasih karunia kamu diselamatkan—“. Kehidupan (baca: keselamatan) bukanlah hasil usaha dan pekerjaan manusia, semuanya terjadi hanya karena anugerah Allah. Itu sebabnya tidak ada tempat untuk menyombongkan diri, menganggap diri lebih tinggi dari yang lain. Sebagai ciptaan baru di dalam Dia yang disalibkan, maka ada tanggungjawab yang harus dijalani yaitu melakukan pekerjaan baik. Pekerjaan baik dalam bahasa Yunani disebut Agathos, yang artinya melakukan perbuatan yang memulihkan, menyehatkan dan bermanfaat bagi sesama. Inilah panggilan bagi umat yang telah hidup dalam anugerah Allah, yaitu untuk membawa kehidupan juga bagi sesama.

                                                                                                                                                                                    DRS

 

Leave a comment