ANAK MANUSIA (BEN-ADAM)

news-thumb1280

 ( Yehezkiel 2:1-5, Mazmur 123, 2Korintus 12:2-10, Markus 6:1-l3) 

Istilah “Ben-Adam” adalah sebuah dalam bahasa Ibrani, yang secara harafiah berarti “Anak Adam”, dalam Alkitab Bahasa Indonesia diteriemahkan oleh LAl “Anak Manusia”. istilah ini digunakan oleh Tuhan sebagai sebutan terhadap Yehezkiel (Yeh 2:1,3) ketika Tuhan menyatakan panggilan-Nya atas Yehezkiel sebagai nabi yang akan diutus-Nya kepada bangsa Israel, suatu bangsa yang telah memberontak kepada Tuhan dengan melawan dan mendurhaka terhadap Tuhan. Melalui penggunaan sebutan “anak manusia” (“Ben-Adam”) ini Tuhan sepertinya mau menegaskan kepada Yehezkiel bahwa ia, yang memanggil Yehezkiel meniadi nabi-Nya adalah Tuhan yang mengenal Yehezkiel dengan baik benar, bahwa Yehezkiel hanyalah “anak manusia”. Ketika Tuhan memilih dan menyatakan tugas panggilan yang begitu berat kepada Yehezkiel, yakni berbicara kepada kaum yang keras kepala dan tegar hati, tidak berarti bahwa Tuhan melihat Yehezkiel sebagai sosok yang “istimewa” atau lebih baik daripada kebanyakan anak manusia, tidak. Tuhan tahu dan Ia menegaskan kepada Yehezkiel bahwa sekalipun Tuhan menyatakan panggilan yang istimewa kepadanya, ia tetap hanyalah “anak manusia” biasa, keturunan Adam, makhluk yang fana, yang memiliki keterbatasan dan kerapuhan. Tugas panggilan yang Tuhan berikan kepadanya tidak serta merta mengubah Yehezkiel meniadi manusia super yang berbeda dari sosok manusia lainnya.

Mengapa penting bagi Tuhan untuk menyatakan dan menegaskan keberadaan Yehezkiel sebagai anak manusia (ben-Adam) yang sama seperti keturunan Adam lainnya? Sesungguhnya setiap kita, manusia, memiliki kecenderungan untuk lupa siapa diri kita ketika kita melihat betapa besarnya tugas panggilan yang Tuhan Allah percayakan kepada kita. Kita mudah merasa tersanjung, lalu merasa diri lebih baik dari yang lain karena semua kepercayaan yang Allah berikan kepada kita. Mungkin kita ingat kisah perialanan seorang nabi yang dipakai Tuhan dengan luar biasa, yaitu Nabi Elia. Setelah semua hal luar biasa yang Allah lakukan melalui perkataan dan tanda-tanda ajaib yang Allah nyatakan kepada bangsa Israel melalui Elia, Elia merasa seharusnya ada sesuatu yang baik yang teriadi di tengah-tengah bangsa Israel. Seharusnya bangsa israel betobat dan berbalik kembali kepada Tuhan setelah mendengar pemberitaan dan melihat tanda aiaib yang dilakukannya, yang ia yakin lebih daripada yang pernah dilakukan nenek moyangnya, tetapi ternyata tidak demikian. Mereka masih tetap keras kepala dan tegar hati. Oleh karena itu keluhan yang disampaikan Elia kepada Tuhan adalah: “Cukuplah sudah ya Tuhan, ambillah nyawaku sebab aku ini tidak lebih baik daripada nenek moyangkul”.

Sejak semula ketika Tuhan menciptakan manusia, Tuhan tidak menciptakan manusia sebagai makhluk luar biasa yang hanya bisa mengerjakan berbagai hal dengan sempurna, tidak bisa salah, tidak bisa gagal. Sebaliknya, manusia yang diciptakan Tuhan adalah sosok rapuh dari debu tanah bukan dari batu atau logam. Manusia yang punya keterbatasan, sehingga dengan mudah dapat diperdaya dan jatuh dalam dosa, bisa salah, bisa gagal. Meskipun demikian, seiak awal Tuhan menciptakan manusia, Tuhan telah menyiapkan pekeriaan-pekeriaan baik, yang besar dan luar biasa untuk dipercayakan kepada manusia, kepada anak-anak manusia. Kelemahan dan kerapuhan yang dimiliki sesungguhnya tidak akan pernah menghalangi manusia melakukan tugas dan panggilan yang Tuhan Allah berikan kepadanya karena dalam kelemahan dan kerapuhan manusia, kuasa Allah akan bekeria, menguatkan dan memampukan. Allah turut bekeria dalam setiap keadaan, bahkan dalam kelemahan dan kerapuhan manusia, iustru kuasa Allah dinyatakan (lihat 2Kor 12:2-10).

Tuhan telah menyediakan banyak pekeriaan besar yang Ia mau kita lakukan dalam hidup kita dan Ia menyatakan panggilan-Nya kepada setiap kita. Jangan merasa diri hebat dan memiliki segalanya, itu hanya akan membuat kita kecewa dan mudah putus asa seperti Elia. Jangan iuga merasa diri kita begitu lemah, rapuh dan terbatas sehingga merasa tidak bisa melakukan pekeriaan apapun selain meratap dan mengasihani diri. Kelemahan dan kerapuhan kita tidak akan menghalangi kita melakukan tugas panggilan yang Allah berikan kepada setiap kita selama kita bersedia membiarkan kuasa Allah bekeria di dalam dan melalui diri kita. Memang benar, kita hanyalah ben-Adam, anak manusia, tetapi Allah berkenan memilih dan memanggil kita meniadi rekan sekerja-Nya dalam dunia, kuasa-Nya akan memperlengkapi dan menguatkan kita. Karena itu marilah kita tetap bekerja. Amin!

Pdt. LN

 

Leave a comment