Allah Hadir Untukmu

news-thumb1280

(1 Raj 19:9-18, Mzm 85:9-14, Rm 10:5-15, Mat 14:22-33)

Semua orang di dunia ini mengalami kesusahan setiap hari. Hanya, bentuk dan bobotnya berbeda-beda. Kesusahan bisa karena keluarga, ekonomi, pekerjaan, dan lain-lain. Derita yang dirasa tidak pernah habis ini dapat membawa manusia pada keputusasaan. Saat putus asa, manusia bisa mencari solusi yang kerap instan dan salah. Akibatnya, manusia malah terlilit pada persoalan-persoalan baru. Bahkan, orang bisa memilih untuk bunuh diri.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa tahun 2010 angka bunuh diri di Indonesia mencapai 5.000 orang. Jumlah ini melonjak dua kali lipat tahun 2012, yakni mencapai 10.000 kasus. Itu belum termasuk dengan upaya-upaya percobaan bunuh diri yang gagal terjadi. Sementara secara global, pada tahun 2012, telah terjadi 800.000 kasus bunuh diri di dunia. Sebesar 75% kasus bunuh diri terjadi di negara-negara ekonomi rendah dan menengah. Bahkan, bunuh diri telah menjadi penyebab kematian terbesar ketiga bagi orang berusia 10-24 tahun.

Menurut catatan WHO, tindakan bunuh diri dilakukan karena orang mengalami depresi; misalnya depresi karena pelecehan, kekerasan, kondisi ekonomi, permasalahan keluarga, penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan terlarang, dan hubungan sosial yang buruk. Mereka takut menjalani hidup, tetapi berani memilih mati. Intinya, keputusasaan dan rasa sakit mendorong orang untuk memandang bunuh diri sebagai solusi terbaik keluar dari tekanan hidup yang dialami.

Bacaan Injil di atas mengisahkan tentang para murid saat menyeberang dengan perahu. Tuhan Yesus sengaja tetap tinggal di darat. Ia ingin berdoa seorang diri di atas bukit yang sepi. Barangkali, Ia juga ingin melihat apakah iman murid-murid- Nya semakin bertumbuh pasca melihat mukjizat 5.000 orang dapat makan dari 5 roti dan 2 ikan.

Saat para murid berlayar, tiba-tiba kapal mereka digoncang angin sakal. Mereka berusaha mengatasinya dengan terus-menerus mendayung (band. Mrk 6:48). Tapi, perlahan mereka kewalahan dan kelelahan. Mereka semakin gentar. Pikiran mereka dikuasai ketakutan dan bahaya kematian. Itulah sebabnya, ketika melihat Kristus berjalan di atas air, mereka malah menduganya sebagai hantu. Mereka lalu berteriak-teriak karena gentar.

Di tengah situasi itulah Kristus hadir dan berkata, “Tenanglah! Ini Aku, jangan takut!” (ayat 27). Ternyata, Kristus melihat para murid dari jauh. Ia mengetahui ketakutan mereka. Tidak terduga. Kristus hadir. Ia berjalan di atas air. Kristus mengasihi para murid dan sedia melindungi mereka. Ia tidak dapat membiarkan para murid hanyut diterjang angin sakal.

Selain karena kasih-Nya, kehadiran Kristus berjalan di atas air juga hendak menyatakan keilahian-Nya. Ia menunjukkan bahwa diri- Nya melampaui hukum-hukum alam. Ia memiliki kuasa melampaui apapun dan siapapun. Dengan melihat kuasa yang demikian besar, para murid diharapkan semakin beriman kepada Kristus. Kuasa Allah melekat pada-Nya. Itulah sebabnya, Ia layak menjadi andalan dan sandaran di saat apapun.

Mungkin pengalaman hidup kita naik turun seperti para murid. Terkadang kita takut dan bimbang menghadapi angin pencobaan dunia ini. Akan tetapi, hendaknya kita terus belajar menyadari bahwa kita tidak pernah sendiri. Allah melihat kita dari kejauhan. Ia tidak tutup mata atas pergumulan kita. Ia siap sedia menolong kita tepat pada waktunya, bahkan dengan keajaiban-keajaiban. Untuk itu, jangan putus asa dengan persoalan hidup kita. Jangan mudah ambil jalan pintas yang keliru. Datanglah kepada Tuhan dalam seruan- seruan doa. Tetaplah percaya, jangan goyah. Keyakinan kita pada Kristus pada akhirnya akan berbuahkan ketekunan, ketaatan dan kepekaan untuk melihat kehadiran dan keterlibatan Tuhan secara nyata. Tuhan Memberkati

MM

Leave a comment