30 Tahun GKI: Bersama Mengukir Narasi Cinta Bangsa

news-thumb1280

(Ul 10: 12-22, Mzm 15, Rm 2: 12-29, Mrk 12: 28-34)

Pada ulang tahun penyatuan GKI ke-30 ini, penting untuk kita kembali merenungkan keberadaan dan peran GKI di tengah hidup berbangsa. Apakah yang telah kita lakukan bagi bangsa ini? Sekalipun minoritas, umat Kristen harus mampu menyuarakan kebenaran, seperti  dahulu telah dilakukan anak-anak Tuhan seperti T.B Simatupang, Eka Darmaputera, dll.

Suara kebenaran Tuhan Yesus tidak harus dikumandangkan dengan terjun langsung berpolitik. Menyuarakan kebenaran tidak harus dilakukan dengan kampanye atau demonstrasi yang meresahkan banyak orang. Kebiasaan memaksakan kehendak melalui demonstrasi telah mencabik kedamaian bangsa ini berulangkali, apalagi ditunggangi motif SARA dan radikalisme yang sempit. Yang Tuhan Yesus kehendaki ialah menghadirkan kasih-Nya yang memulihkan semua orang, khususnya kepada mereka yang menderita dan terpinggirkan. Apakah kita sebagai Gereja Kristen Indonesia dan anggota di dalamnya telah melakukan itu?

Di dalam Ulangan 10: 12-22 terdapat ungkapan yang terkenal dan sangat penting: “Syema Yisrael Yahwe Elohenu Yahwe Ehad”. Ungkapan itu berarti: “Dengarlah hai orang Israel, TUHAN itu adalah Allah kita, Tuhan itu Esa”. Mengapa ungkapan ini demikian penting?

  1. Bangsa Israel perlu membangun identitas dan harga dirinya secara kuat dan Sebagai bangsa baru yang keluar dari rumah perbudakan Mesir, mereka harus menyadari bahwa mereka sangat berharga dan dikasihi oleh Tuhan.
  2. Adanya godaan sinkretisme (percampuran keyakinan dan budaya) yang kuat. Dalam perjalanan hidup Israel, seringkali mereka melukai hati Allah dengan memperbandingan Allah dengan allah-allah lain. Mereka juga mudah tergoda meniru peribadahan, pola kebudayaan dan kehidupan bangsa lain, khususnya melalui perkawinan.

Kondisi di atas sangat mungkin memudarkan identitas bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah. Itu sebabnya, Israel perlu kembali diajak untuk berbalik kepada Allah yang tunggal (esa) dan mempunyai hubungan yang khusus dengan-Nya.  Dengan demikian:

      a. Hubungan Israel dengan Allah kembali terjalin dengan baik (hubungan secara vertikal)

      b. Israel dapat mengutamakan Allah (kasih, kebenaran dan keadilan-Nya) dalam kehidupan mereka sehari-hari.

      c. Tidak membandingkan dan mempertandingkan TUHAN (Yahwe) dengan ilah-ilah lain

Tidak hanya berhenti di situ, Allah juga meminta umat-Nya melakukan “sunat hati”. Sunat hati artinya membersihkan hati agar mampu menghidupi kasih Allah secara murni dan sungguh-sungguh. Allah berharap Israel dapat mengukir kehidupannya dengan baik dan benar sesuai dengan kehendak-Nya. Selama berpijak pada kasih, kebenaran dan keadilan itulah kehidupan Israel akan terbangun dengan damai dan sejahtera.

Dalam rangka HUT penyatuan GKI ke-30 ini, kita diajak kembali untuk berpijak pada kasih dan kebenaran Allah. Kasih dan kebenaran itu harus nyata dalam kehidupan sehari-hari kita dan dalam kehidupan bermasyarakat kita. Kita harus membuktikan bahwa bangsa ini masih memiliki rakyat yang mencintai kasih dan kebenaran. Kita harus berpendirian yang teguh pada keyakinan kita, tanpa harus terjebak pada eksklusivisme yang sempit. Kita harus terbuka pada semua orang, tanpa ikut-ikutan melakukan kesalahan dan dosa berjamaah. Kita harus merasa berharga dan mulia, tanpa terjebak dalam fanatisme hidup yang sempit.

Untuk itu, marilah kita merenungkan: Apakah kita sudah menyatakan kasih Allah dalam kehidupan kita? Apakah kita sudah mengukir kehidupan kita dan hidup berbangsa kita dengan kasih dan kebenaran Allah? Marilah kita semakin sungguh-sungguh berpihak kepada orang-orang yang menderita dan tersisih di negeri ini. Marilah semakin berani melakukan karya-karya nyata, sehingga bangsa ini semakin bertumbuh dalam kedamaian, kerukunan, kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Selamat ulang tahun! Tuhan memberkati.

Write by : BMW

Leave a comment